JURNAL ILMU PENDIDIKAN


Nomor 1, Maret 2006 ISSN 1693 – 2463

Penerbit
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung
Jurnal Ilmu p endidikan dan Pembelajaran Volume 4 Nomor 1 Halaman 1 – 100 Bandar Lampung, Maret 2006 ISSN 1693 – 2463

JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006, ISSN 1693 – 2463
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Terakreditasi “C” berdasarkan keputusan dirjen dikti depdiknas
Nomor: 26/DIKTI/KEP/2005, tanggal 30 Mei 2005

SUSUNAN DEWAN PENYUNTING

Penanggung Jawab
Bujang Rahman

Ketua penyunting
A.B. Setiyadi

Dewan Penyunting
Patuan Raja, Basrowi, N.E Rusmianto,
Sowiyah, Siti Samhati

Penyunting Ahli (Mitra Bastari)
Ali Saukah (Universitas Malang)
Salam (Universitas Negeri Makasar)
Dyah Arulilina (Universitas Bengkulu)
Udin Syrifudin (Universitas Terbuka)
La Marota Galib (Universitas Halu Oleo)
Junaidi Mistar (Universitas Islam Malang)
Koesdwirarti Setono (Universitas Pajajaran)
Gunarjo s. Budi (Universitas Palangkaraya)
Joko Nurkamto (Universitas Negeri Surakarta)
Ari Widodo (Universitas Pendidikan Indonesia)
Yusuf Hadmiarso (Universitas Negeri Jakarta)
Suharismi Arikunto (Universitas Negeri Yogyakarta)

PENYUNTING TEKNIK
C. Ertikanto, M Widodo, Amrullah
Tata Usaha
Anwar, Zainuddin

Alamat
Sekertariat Dekan Gedung A FKIP Universitas Lampung
jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung 35145
Tlp : (0721) 704624, Fax : (0721) 709493, email : jppfkip@unila.ac.id

Jurnal pendidikan dan pembelajaran terbit pertama kali April 2003,
jurnal diterbitkan dua kali setahun pada bulan maret dan september,
Dewan Penyunting menerima naskah hasil penelitian bidang pendidikan
dan pembelajaran yang telah diringkas, untuk dipertimbangkan pemuatannya

JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN
DAN KONSELING D1 SEKOLAH
IDENTIFICATION OF NEEDS IN THE DEVELOPING OF SCHOOL GUIDANCE
AND COUNSELING PROGRAM

Oleh
Giyono
Staf Pengajar pada Jurusan limo Pendidikan FKiP Unila
Diterima 16 Januari 2006/disetujui 22 Pebruari 2006
Abstract: The purposes of this research are (1) Identification of needs in guidance and counseling service program, and (2) Guidance and counseling service program that fulfill student needs. The method used to collect data was questionnaire and the data analysis was carried out descriptively. The subjects were 300 students of Tunas Harapan Senior High School. The research finds three needs of students in general. They are (1) guidance service connected to learning program, (2) guidance service connected to personal problems, and (3) guidance service connected to future career It is suggested that (1) Headmaster should provide facilities and observation on the implementation of guidance and counseling service, (2) Counselor/Consultant teachers should implement guidance and counseling service based on the real needs of students, and (3) Classroom teachers should be invoived in the socialization of guidance and counseling service program in the daily process of teaching.
Key words: need identification, guidance and counseling program development
PENDAHULUAN
Pendidikan sebagai langkah strategy dalam mempersiapkan somber daya fnarusla (SDM) berkualitas (Nurcholis dalam India D)a”], 2003 xi) dan pendidikan tidak hanya ter batas pada pengajaran Pendidikan melibatkan banyak hal dan rnencakup kesehiruhan tingkah laku manusia yang cl;lak.uRar urtuk mernperoleh kesinarnhungan pertahanan dan peningkatan hidup Pendidikan sebagai usaha sengaja sistemik, taros menerus untuk mentransfer clan ryiengernbangkoin pengetahuan, sikap, nilai keterampilan RE anyak pihak menyoroti kualitas pendidikan kita menurun perbedaan kualitas pendidikan di pe¬desaan dengan pendidikan di perkotaan (A.rdhana, 1992 7) Hai ini hares ditanggapi dan direspon secara series, banyak pihak masih menganggap pendidikan: bukan mer.!pakan salah sate faktor terpuruknya bangsa kita Sehingga banyak pergamat khususnya politikus hanya mengarahkan pemikirannya pada ekonomi dan pohtlk Pendidikan Sama sekali kurang mendapat perhatian, realitas menunjukkan kapasitas clan wawasan bangsa ini masih belum berpikir jauh ke depan Sehingga hasil pendidikan di negeri ini bcium memperoleh hasil maksimal, maka sudah saatnya pendidikan bukan lags dipandang se-bagai masalah bagi lembaga penyelenggara pendidikan saja tetapi pendidikan merupa¬kan suatu masalah nasional secara keseluruhan.

76, JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100
Pendidikan mass depan dengan paradigms barn dari teaching to learning (Indra Djati, 2003: 21) dan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan formal tidak lagi hanya me¬ngembangkan dan mengelola dua jenis kecerdasan saja, yaitu kecerdasan linguistik dan kecerdasan logis matematik. Bagi Sekolah mengembangkan kecerdasan emosional sudah merupakan suatu keharusan. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional antara lain adalah mengembangkan kepribadian yang utuh. Kepribadian yang utuh memiliki makna bahwa system operasional pendidikan di sekolah-sekolah bertujuan mengembangkan berbagai aspek, yaitu (1) perkembangan kecerdasan emosional (EQ), (2) perkembangan kecerdasan Intelectual (10), dan (3) perkembangan kecerdasan speritual (SP). Menurut Goldman (1992: 616-621) Intelectual questions (IQ) hanya mem¬berikan konstribusi 20 % dalam mencapai kesuksesan seseorang. Awal abad XXI pars pembuat kebijakan, perencana dan administrator kependidikan sudah selayaknya ber¬pikir bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah suatu keharusan untuk me¬lakukan lompatan dari level pembelajaran kelas ke tingkat organisasi sekolah. Untuk mencapai itu, kits hares berpedoman pads sistem operasional pendidikan di sekolah yang terdiri dari tiga bidang yang merupakan satu kesatuan yang integral. Dalam re¬formasi pendidikan system tersebut masih dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia (Surya, 2000:1-15). Peranan bimbingan dan konseling di sekolah cukup besar dalam pencapaian sasaran pendidikan sesuai berbagai dimensi pendidikan, maka pengernbangan layanan bimbingan dan konseling di sekolah didorong masuk ke dalarr, pola 17 1, Pray itno 2000 28-50)
Layanan bimbingan dan konseling dapat berhasil maksimal, perlu dilakukan perencanaan berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi sekolah. Perencanaan kegiat¬an akan dijadikan program layanan dan program layanan bimbingan konseling merupa¬kan bagian integral dan program sekolah Realita di lapangan layanan bimbingan dan konseling di nomer cluakan (kurang mendapat perhatian). Menurunnya kualitas pen¬didikan diakLP atau tidak diakw salah satu penyebabnya adalah kurang maksimalnya layanan bimbingan dan konseling Hal in, disebabkan salah satunya oleh guru pem¬bimbing yang kurang proakfif dalam melaksanakan tugasnya. Guru pembimbing dalam merencanakan program layanan kurang memperhat!kan kebutuhan-kebutuhan siswa

Siswa datang ke sekolah dengan berbagai kebutuhan, seperti halnya kebutuhan akan peningkatan pengetahuan dan keterampilan, kebutuhan penyesuaian diri, dan kebutuhan akan pemahaman tentang dunia kerja. Kebanyakan siswa hdak termotivasi, depresi/ frustasi dan bahkan menjadi pribadi tidak sehat. Hal ini disebabkan mereka tidak me¬nemukan kebutuhannya (Goldman, 1978: 122 ). Maka perlu diupayakan layanan bim¬bingan dan konseling dapat membantu pengembangan pendidikan sesuai dengan per¬kembangan yang terjadi dalam masyarakat (Heppner dan Johnstone, 1984: 451-453). Usaha tersebut dituangkan dalam program layanan, di sekolah layanan bimbingan dan konseling (BK) di bagi dalam empat bidang layanan (1) layanan pribadi, (2) layanan social. (3) layanan belajar, dan (4) layanan karir (Obe dan Ogionwo dalam Ahia dan F’— Ilr~ 1984 155 Prayitno. 1994 261) Agar jangkauan layanan program BK dapat.

IDENTIFIKASI Kebutuhan Pengembangan….(Giyono) 77
mencapai sasaran lebih lugs, program hendaknya memiliki empat komponen pokok, yaitu (1) kurikulum bimbingan, (2) layanan individual, (3) layanan responsive, clan (4) layanan pendukung system (Gysbers, at, al. 1992: 566). Tahapan Penyusunan program layanan BK melalui empat tahap (1) tahap perencanaan, (2) tahap penyusunan, (3) tahap pe¬laksanaan, clan (4) tahap evaluasi (Gysber’s clan Henderson, 1988: 94)
Berdasarkan berbagai uraian di atas maka untuk menyusun suatu program yang dapat memenuhi kebutuhan, maka sebelumnya perlu diidentifikasi kebutuhan-kebutuhan siswa sehingga siswa akan termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa akan memiliki paradigma belajar sendiri, memotivasi dirinya sendiri (Kartadinata, 2001: 3-17). Apabila kebutuhannya dapat terpenuhi dari layanan BK yang diberikan. Hal ini yang menarik peneliti untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan siswa dalam menyusun program layanan BKdi sekolah menengah umum di Bandarlampung.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian survey yang diclasarkan pads model needs assessment (Pietrofessa, 1980: 98) yaitu mengidentifikasi kebutuhan siswa berclasarkan panting clan tidak pentingnya dalam program layanan bimbingan clan konseling. Responder dalam penelitian adalah semua siswa SMU Tunas Harapan kelas dua clan tiga. Instrumen pe ngumpulan data digunakan angket yang dikembangkan berclasar kajian teori kebutuhan clan teori bimbingan clan konseling, analisis data digunakan deskriptif analitik.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa progran layanan bimbingan di sekolah yang di¬butuhkan oleh siswa SMU Tunas harapan mencakup tiga hal, secara ringkas dapat lihat Tabel 1 yaitu sebagai berflkut
Tabel 1 Kebutuhan Peserta Didik akan Layanan Bimbingan
No Bidang Aspek Prosentase
1 Layanan Belajar Secara Umum 51 – 91%
a. Pemanfaatan kesempatan belajar 91 %
b. Menemukan cars belajar efektif 90%
c. Pengawasan 83%
2 Layanan Pribadi Secara Umum 53 – 95%
a. Pemahaman dan penerimaan diri
b. Pemahaman dan penerimaan 93%
lingkungan 90%
c.PengembanTan rasa tanggungjawab 95%

78 JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100

No Bidang Aspek Prosentase
3 Layanan Karir Secara Umum 55 — 92%
a. Layanan Informasi Karir 91%
b. Perencanaan karir 79%
c. Membuat akeputusan karir 84%

Pembahasan
Berdasar Tabel 1 dapat dibahas secara lebih mendalam bahwa terdapat tiga bebutuhan layanan yang diperlukan oleh peserta didik yaitu (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan pribadi, dan (3) bimbingan karir.
Pertama berkaitan dengan layanan bimbingan belajar secara umum sebagian besar siswa (53%-91 %) menyatakan sangat dibutuhkan. Bidang layanan belajar ini diuraikan sebagai berikut; (a) pemanfaatan kesempatan belajar (learning opportunities) me¬liputi: sarana dan prasarana layanan bimbingan dan konseling yang memadai sebagian besar (91%) menyatakan sangat diperlukan, informasi mengenai peranan dan fungsi bimbingan dan konseling di sekolah 82% siswa menyatakan sangat diperlukan, ke¬sempatan mengembangkan kreativitas baik secara perorangan maupun secara kelompok 77%, penjelasan mengenai struktur organisasi layanan bimbingan dan konseling di sekolah sebanyak 63% siswa menyatakan sangat perlu, begitu jugs informasi mengenai kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan belajar kelompok/bimbingan kelompok sebanyak 55 % dari seluruh siswa menyatakan sangat dibutuhkan. (b) menemukan cara belajar effektif (effective learning) dalam hal ini sebagian besar siswa (90%) membutuhkan bimbingan tarn belajar secara effektif.penjelasan cara penggunaan alai-alai laboratorium sangat diperlukan sebanyak 73%, sebanyak 70% siswa sangat membutuhkan penjelasan mengenai kurikulum, dan sebanyak 58% siswa menginginkan perlunya penjelasan me¬ngenai penggunaan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah dalam upaya guns meningkatkan belajar lebih efektif. (c) pengawasan (supervision), dalam hal pengawasan sebagian besar (83%) siswa menyatakan petugas layanan bimbingan dan konseling diperlukan tenaga professional. sangat diperlukan keiklasan dan keseriusan dalam membimbing siswa baik pada waktu di kelas maupun di luar kelas sebanyak 83%. sedang 82% siswa menyatakan bahwa sangat diperlukan adanya pengawasan secara intensif bagi seluruh siswa pada saat belajar di dalam kelas maupun pada waktu istirahat, dan sebagian besar (76%) siswa membutuhkan adanya kesamaan pendapat (adanya satu bahasa) dalam menginformasikan sesuatu hal kepada siswa oleh guru dan guru pembimbing Berta kepala sekolah.

Berdasar hasil identifikasi mengenai kebutuhan dalam bidang bimbingan belajar siswa radar bahwa dirinya banyak membutuhkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dirinya dalam memanfaatkan waktunya untuk belajar dan memperoleh hasil yang optimal. Banyak terjadi di sekolah program layanan bimbingan berdasarkan keinginan pembim¬bmg sehingga Bering terjadi siswa mengalami kebingungan dan siswa takut datang kepada pembimbing Ketakutan yang dialami siswa bukan karena pembimbingnya tidak

Identifikasi Kebutuhan Pengembangan….(Giyono) 79

menyenangkan, tetapi karena layanan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhaan para siswa. Hal itu terjadi sebab kurang adanya informasi mengenai peranan dan fungsi lembaga bimbingan konseling di sekolah. Dalam penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya betul-betul disesuaikan dengan kebutuhan perkembang¬an siswa. Pembimbing semestinya menyadari bahwa para siswa sudah mengarah dalam belajar sesuai dengan paradigmanya sendiri, karena adanya pergeseran dalam kultur kehidupan yang lebih banyak mencurahkan waktu untuk belajar demi kepentingan mass depannya. Maka pembimbing hendaknya banyak mencurahkan waktunya untuk meng¬ubah orientasi kerja menjadi orientasi layanan yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, tetapi tergantung kepada kebutuhan layanan yang didasarkan pada kebutuhan siswa (Kartadinata, 2001: 3-17)
Hasil identifikasi di atas siswa jugs merasakan perlunya penanganan layanan bimbingan dan konseling di sekolah ditangani oleh tenaga professional. ini muncul banyak disebabkan oleh pengalaman siswa selama di SMU memperoleh peiayanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, ternyata masih banyaknya guru-guru pembimbing yang tidak memiliki latar pendidikan bimbingan dan konseling Berkenaan dengan layanan bimbing¬an konseling yang kurang memperhatikan kebutuhan siswa, maka siswa mengalami tiga jenis kesulitan yaitu (1) kemampuan belajar (learning capability) yang lemah, (2) kesulitan dalam mengenali kesempatan kerja (employement opportunities) atau kesempatan be¬lajar lebih lanjut, sesuai dengan kemampuan dan minat mereka. dan (3) kebingungan dalam menghadapi situasi yang serba kacau dalam masyarakat (Bochcri, 2001 18-29)

Kedua, berkaitan dengan layanan bimbingan pribadi, secara umum siswa memberikan respon terhadap butir layanan bimbingan kepribadian 53% – 93% berada pada kategon tinggi. Hal ini mengandung makna bahwa sebagian besar siswa memandang layanan bimbingan pribadi seorang sangat dibutuhkan oleh siswa. Secara rinci dapat diurai se¬bagai berikut; (a) pada pemahaman dan penerimaan diri (self understanding and self acceptance) dalam kategori tinggi yaitu 93% siswa memerlukan pemahaman terhadap minat, bakat, dan kemampuan dirinya dan 79% membutuhkan pemahaman mengenai sifat-sifat pribadi, 72% membutuhkan bimbingan pengendalian diri dan emosional (b) pemahaman dan penerimaan lingkungan (getting along wiht other’s) sebanyak 90% siswa membutuhkan pemahaman orang tua terhadap program pendidikan di SMU. sebanyak 89% memerlukan kesempatan menjalin persahabatan dengan sekolah lain, ban sebanyak 79% membutuhkan pemahaman bagaimana menemukan cara me-7ingkatkan perasaan akrab dengan Leman, guru, dan karyawan.
sebanyak 65% memerlukan dorongan keberanian bertanya balk dalam kelas maupun di -ar sekolah, serta memerlukan tempat dan kesempatan berteman dengan Leman-Leman 13n kafetaria yang memadai sebanyak 53%.Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan, – 3da dasarnya sesuai dengan konsep school based management / manajemen berbasis sekolah(MBS) di mans kepala sekolah dalam mengembangkan program-prograill ke¬-ndidikan secara menyeluruh untuk melayani segala kebutuhan siswa ke sekolah (Malik :’=,ar, dalam lbtisam Abu-Duhou, 2003: viii-xxiii). Semua sekolah termasuk guru pem¬: —bing dalam merumuskan yang lebih operasional, karena mereka yang paling

78 JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100
mengetahui akan kebutuhan siswanya. Berkenaan dengan MBS ini sesuai dengan fungsi layanan bimbingan dan konseling adalah membantu memahami diri dan dunianya serta lingkungannya (Shertzer & Stone, 1981: 112). Pemahaman terhadap minat dan bakat serta kemampuan diri sangat dibutuhkan oleh siswa, pads awal abad XXI layanan bimbingan dan konseling sudah seharusnya menekankan pads fungsi pelayanan pe-mahaman, pencegahan dan fungsi pengembangan (Kartadinata, 2001: 3-17). Siswa setelah memahami diri diharapkan dapat menerima dirinya dan selanjutnya dapat me¬ngarahkan dirinya dan pads akhirnya mampu mengembangkan dirinya secara optimal.
Pengendalian emosi ternyata merupakan kebutuhan siswa, hal ini berarti ada kesadaran pads diri siswa sebagai usia remaja yang memiliki ciri mudah tersinggung dan menge-tengahkan emosi dirasakan sebagai perilaku yang kurang baik. Sekolah sering melupa¬kan bahwa para siswa memiliki kebutuhan sarana untuk menjalin hubungan dengan se¬sama teman, dengan guru, dengan staf dan ternyata kafetaria bukan sekedar untuk membeli makanan, tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai tempat untuk sosialisasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah. ( c) pengembangan rasa tanggungjawab (responsibilities), aspek ini tersebar pads kebutuhan akan bea siswa dan jenis bantuan lain serta cars mendapatkan sebanyak 95%, dan 84% membutuhkan motivasi belajar lebih baik, serta kebutuhan layanan bimbingan memperoleh harga diri sebanyak 81%. Disamping itu sebanyak 76% menyatakan pengelolaan hasil ujian diolah oleh orang-orang yang professional, dan siswa menyatakan dalam program perawatan sarana prasarana belajar sebanyak 68% perlu melibatkan siswa, dan masih ada yang menyatakan perlunya layanan informasi / penjelasan mengenai tata tertib, hak, dan kewajiban sebagai siswa. Dalam diri siswa ternyata merasa bertanggungjawab dalam merawat sarana dan prasarana belajar, namun selama ini dalam program layanan bimbingan tidak pernah melibatkan para siswa. Disadari atau tidak disadari justru siswa sangat urgen dalam program layanan bimingan, karena secara realita apabila ada ke¬rusakan fasilitas belajar yang selalu disalahkan dan dikalahkan oleh guru adalah siswa (Rake Joni, 1988).
Dengan teridentifikasi kebutuhan siswa dalam pengawasan akan lebih efektif apabila program layanan benar-benar mendasarkan pads kebutuhan para siswa, maka layanan bimbingan konseling di sekolah akan dapat membantu siswa sesuai dengan perkem¬bangannya, sehingga siswa dapat berkembang secara optimal. Siswa sebagai manusia memiliki kebutuhan akan harga diri, aspek ini muncul sebagai kebutuhan yang dinyata¬kan oleh para siswa didorong oleh perlakuan yang sering muncul siswa kurang dihargai sebagai manusia, tetapi sebagai siswa yang kedudukan sebagai obyek. Siswa sangat membutuhkan motivasi belajar yang lebih baik, hal ini sewajarnya direspon oleh sekolah khususnya pads layanan bimbingan dan konseling. Motivasi merupakan suatu dorongan pads diri seseorang melakukan sesuatu, orang yang memiliki needs achievement yang tinggi maka akan memperoleh hasil yang optimal, termasuk dalam belajar. Hasil belajar yang dinilai oleh orang-orang sesuai dengan profesinya akan menjadi motivasi bagi siswa, sebab hasilnya pasti dapat dipertanggungjawabkan. Siswa meskipun memperoleh hasil yang kurang memuaskan, namun siswa akan dapat menerima hasil tersebut de¬ngan rasa puas.
Identifikasi Kebutuhan Pengembangan….(Giyono) 79
Ketiga, kebutuhan untuk bimbingan karir. Berkenaan kebutuhan untuk layanan bimbing¬an karir secara umum dapat diidentifikasi dan dikeiompokkan menjadi tiga, (1) layanan informasi karir (career information service), (2) perencanaan karir (career planning), dan (3) membuat keputusan ktirir (career decicion making). Ke tiga hal ini termasuk kebutuh¬an tingkat tinggi (55% – 91%). Secara rinci dapat diurai sebagai berikut; (1) layanan in¬formasi karir pads kategori tinggi adalah (a) informasi mengenai pendidikan lanjutan 91%, (b) informasi mengenai perkembangan kebutuhan tenaga kerja mencapai 84%,
(c) informasi mengenai arch ketenagaan kerja yang dikembangkan sebanyak 79%,
(d) sebanyak 55% membutuhkan informasi mengenai upaya berwira usaha; (2) layan¬an yang menyangkut pads kelompok perencanaan kerja dalam kategori tinggi adalah (a) penjelasan mengenai tata cara melamar suatu pekerjaan dan persyaratan suatu jenis pekerjaan sebanyak 92%, (b) penjelasan cara menjalin hubungan balk dengan alumi yang sudah bekerja mencapai 91%, (c) sebanyak 90% membutuhkan kesempatan untuk karyawisata di tempat-tempat home industri, (d) sebanyak 59% siswa menyatakan perlu¬nya menjalin hubungan kerjasama dengan pihak-pihak perusahaan berkaitan dengan kelanjutan studi kesempatan bekerja; (3) layanan yang termasuk kelompok pengambil¬an keputusan dalam kategori tinggi adalah, (a) penjelasan cara menetapkan untuk me¬ngambil keputusan sebanyak 81%, (b) penjelasan cara memilih alternatif pilihan pe¬kerjaan sebanyak 80%, (c) cara mengembangkan rasa percaya din dalam memecah¬kan masalah 90%.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Ada tiga kebutuhan secara makro yang diharapkan oleh siswa dalam program layanan dan bimbingan di sekolah, yaitu (1) layanan bimbingan belajar (2) bimbingan pribadi, dan (3) bimbingan karir
Layanan bimbingan belajar mencakup (a) sarana prasarana !ayanar, bimbingan dan konseling yang memadai, (b) informasi mengenai perarian dan fungsi bimbingan dan konseling di sekolah, (c) kesempatan mengembangkan kreativitas balk secara pero¬rangan maupun secara kelompok (d) penjelasan mengenai struktur organisasi layanan bimbingan dan konseling di sekolah, (e) informasi mengenai kegiatan ekstra kunkuler dan kegiatan belajar kelompok/bimbingan kelompok (d) bimbingan cara belajar efektif, (e) informasi tentang kurikulu, (f) penjelasan peralatan laborat, (g) perlunya penjelasan mengenai penggunaan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah daiam upaya meningkatkan belajar yang lebih efektif. (h) perlunya petugas layanan bimbingan dan konseling yang professional, (i) diperlukan keiklasan dan keseriusan guru dalam membimbing siswa balk pads waktu di kelas maupun di luar, 0) pengawasan secara intensif bagi seiidruh siswa pads saat belajar di dalam kelas maupun pads waktu istirahat, dan sebagian besar, (k) perlunya adanya informasi yang sama yang disampaikan kepada siswa,
Layanan bimbingan pribadi mencakup (a) pemahaman dan penerimazin din termasuk kategori tinggi yaitu pemahaman terhadap minat, bakat, dan kemampuan dinnya dan

78 JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100
mengenai sifat pribadi, (b) bimbingan pengendalian diri dan emosional, (c) pemahaman dan penerimaan lingkungan, (d) pemahaman orang tua terhadap program pendidikan di SMU, (e) kesempatan menjalin persahabatan dengan sekolah lain, (f) pemahaman cara meningkatkan perasaan akrab’ dengan teman, guru, dan karyawan. (g) memerlukan dorongan keberanian bertanya baik, (h) memerlukan tempat dan kesempatan berteman dengan teman-teman dan kafetaria yang memadai, (i) kebutuhan akan bea siswa dan jenis bantuan lain serta cara mendapatkannya, 0) membutuhkan motivasi belajar lebih baik, (k) kebutuhan layanan bimbingan memperoleh harga diri, (1) perlunya pengelolaan basil ujian diolah oleh orang yang professional, (m) siswa menyatakan dalam program perawatan sarana prasarana belajar perlu melibatkan siswa dan perlunya layanan in¬formasi/penjelasan mengenai tata tertib, hak, dan kewajiban sebagai siswa.
Kebutuhan layanan untuk bimbingan karir. Berkenaan kebutuhan untuk layanan bimbingan karir secara umum dapat diidentifikasi dan dikelompok kan menjadi tiga, yaitu (1) layanan informasi karir (career information service), (2) perencanaan karir (career planning), dan (3) membuat keputusan karir (career decicion making). Ke tiga hal ini termasuk kebutuhan tingkat tinggi (1) layanan informasi karir pads kategori tinggi adalah (a) informasi mengenai pendidikan lanjutan, (b) informasi mengenai perkembangan ke¬butuhan tenaga kerja, (c) informasi mengenai arch ketenagaan kerja yang dikembangk¬an, (d) informasi mengenai upaya berwira usaha; (2) layanan yang menyangkut pads ke¬lompok perencanaan kerja dalam kategori tinggi adalah (a) penjelasan mengenai tata cara melamar suatu pekerjaan dan persyaratan suatu jenis pekerjaan, (b) penjelasan cara menjalin hubungan baik dengan alumi yang sudah bekerja, (c) informasi tentang kesempatan untuk karyawisata di tempat-tempat home industri, (d) perlunya menjalin hubungan kerjasama dengan pihak-pihak perusahaan berkaitan dengan kelanjutan studi dan kesempatan bekerja; (3) layanan yang termasuk kelompok pengambilan keputusan dalam kategori tinggi adalah, (a) penjelasan cara menetapkan untuk mengambil keputus¬an, (b) penjelasan cara memilih alternatif pilihan pekerjaan, (c) cara-cara mengembang¬kan rasa percaya din dalam memecahkan masalah .
Saran
Berdasar kesimpulan di atas maka dapat disarankan kepada beberapa pihak adalah sebagai berikut;
Kepala sekolah
a. Hendaknya memfasilitasi pengadaan sarana dan prasarana layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang dipimpinnya yang representatif.
b. Hendaknya melakukan pengawasan secara intensifterhadap penyusunan layanan program bimbingan dan konseling.
Guru Pembimbing
a. Hendaknya dalam menyusun program layanan bimbingan dan konseling benar-benar didasarkan pads kebutuhan siswa
b Hendaknya dalam program layanan bimbingan dan konseling melibatkan
berbagai pihak yang dapat memenuhi apa yang dibutuhkan oleh siswa.
Guru Matapelajaran
Hendaknya membantu mensosialisaikan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah kepada pars siswanya

DAFTAR RUJUKAN.
Aiha, C.A. dan Bradley, R. W 1984. Assessment of secondary school student needs in Kwara State Nigeria International-, Journal For The Advancement of Counseling. (7); 149-157.
Ardhana, W 1992. Sistem pendidikan nasional: Realisasi permasalahan dan pemecahannya, Makalah dalam Konvensi Nasional Pendidikan I11cli Ujung Pandang, 4 7 Maret.
Buchori, M. 2001. Dari Guidance dan Counseling ke Bimbingan dan Penyuluhan Pendidikan, Jurnal Bimbingan dan Konseling, Volume IV No 7 Mei. Bandung: Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN).
Goldman, L. 1978. Research methods for counselor. New York: John Wiley and Son, Inc.
Goldman, L. 1992 Qualitative Assessment: An approach for counselor. Journal of Counseling and Development, May-June (70): 616-621.
Grsbers, N. C., Hughey, K. F , Starr, M. Lapan, R. T 1992. Improving School Guidance Program, A. frame work for program, personnel, and result evaluation Journal of Counseling and Development, May June (70) 565 – 570.
Gysbers, N , C. & Henderson P 1988 Development and managing your school guidance program, Virginia AACD
Heppner, P. P, & Johnstone, J A 1984 New Horison in Counseling, faculty Development, Journal of Counseling and Development, May June, (72) 451 – 453.
India Djati. 2003. Menuju masyarakat belajar- Menggagas paradigms barn pendidikan Jakarta: Paramadina.
Kartadinata, S. 2001. Reaktualisasi Paradigma Bimbingan dan Konseling dan Profesionalisasi Konselor, Jumal Bimbingan dan Konseling, Volume IV No 7 Mei, Bandung: Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) 3-17.
Malik Fajar dalam lbtisam Abu-Duhou. 2003 School Based Management, Jakarta. PT Logos Wacana Ilmu.
Nurcholis, M dalam India Djati. 2003. Menuju Masyarakat Belajar.-Menggagas Paradigma
Baru Pendidikan. Jakarta- Kerjasama Paramadina dengan Logos \Abcana Ilmu.

Parayitno. 2000 Bimbingan dan konseling penegak dirnensi-dimensi pendidikan, IPBI, Suara Perribirribing. No 5 Th III Januari-Juni, 28-50.
Pietrofessa, J. J., Bernstein, B!, Minor, J. A & Stanford, S 1980. Guidance introduction. Chicago: Rand Mc Nally Collage Publising Comp.
Rake Joni. 1998. Beberapa permasalahan dalam penilaian prestasi belajar, Malang: Kuliah umum, pasca sarjana IKIP Malang. tidak diterbitkan.
Shertzer, B., & Stone, B. C., 1981. Fundamentals of Guidance. Boston: Hougton Mifflin Company.
Surya, M. 2000. Tres konseling dalam era refcrmasi pendidikan IPBI, Suara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s