AIDS


STRATEGI DAN METODE KURATIF
TENTANG PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia dengan berbagai keberagamannya dalam beberapa decade terakhir telah mengalami banyak sekali perubahan dan peningkatan dalam bidang pembangunan, sayangnya perkembangan pembangunan tersebut tak sejalan dengan perbaikan moral dan kultur budaya yang menyebabkan dekaadensi moral yang luar bias. Salah satu dampak yang terasa sebagai salah satu Negara yang tengan berkembangan adalah, munculnya berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh ulah mausia itu sendiri salah satunya yang menjadi ancaman nyata karna perkembangannya yang telah meraja lela adalah penyakit menular yang disebut AIDS

AIDS merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV. HIV merupakan singkatan dari ’human immunodeficiency virus’. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages– komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.

Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit- penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami defisiensi kekebalan. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang parah dikenal sebagai “infeksi oportunistik” karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang melemah.

Apakah AIDS?
AIDS adalah singkatan dari ‘acquired immunodeficiency syndrome’ dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah disinyalir sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.

Apakah gejala-gejala HIV?
Sebagian besar orang yang terinfeksi HIV tidak menyadarinya karena tidak ada gejala yang tampak segera setelah terjadi infeksi awal. Beberapa orang mengalami gangguan kelenjar yang menimbulkan efek seperti deman (disertai panas tinggi, gatal-gatal, nyeri sendi, dan pembengkakan pada limpa), yang dapat terjadi pada saat seroconversion. Seroconversion adalah pembentukan antibodi akibat HIV yang biasanya terjadi antara enam minggu dan tiga bulan setelah terjadinya infeksi.

Kendatipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang yang terinfeksi HIV sangat mudah menularkan virus tersebut kepada orang lain. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah melalui tes HIV.

Infeksi HIV menyebabkan penurunan dan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi penyakit dan dapat menyebabkan berkembangnya AIDS.

Kapankah seorang terkena AIDS?

Istilah AIDS dipergunakan untuk tahap- tahap infeksi HIV yang paling lanjut.

Sebagian besar orang yang terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan, akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 8-10 tahun. AIDS diidentifikasi berdasarkan beberapa infeksi tertentu, yang dikelompokkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) sebagai berikut:
Tahap I penyakit HIV tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak dikategorikan sebagai AIDS.
Tahap II (meliputi manifestasi mucocutaneous minor dan infeksi-infeksi saluran pernafasan bagian atas yang tak sembuh- sembuh)
Tahap III (meliputi diare kronis yang tidak jelas penyebabnya yang berlangsung lebih dari satu bulan, infeksi bakteri yang parah, dan TBC paru-paru), atau
Tahap IV (meliputi Toksoplasmosis pada otak, Kandidiasis pada saluran tenggorokan (oesophagus), saluran pernafasan (trachea), batang saluran paru-paru (bronchi) atau paru-paru dan Sarkoma Kaposi). Penyakit HIV digunakan sebagai indikator AIDS.

Sebagian besar keadaan ini merupakan infeksi oportunistik yang apabila diderita oleh orang yang sehat, dapat diobati.

Seberapa cepat HIV bisa berkembang menjadi AIDS?

Lamanya dapat bervariasi dari satu individu dengan individu yang lain. Dengan gaya hidup sehat, jarak waktu antara infeksi HIV dan menjadi sakit karena AIDS dapat berkisar antara 10-15 tahun, kadang-kadang bahkan lebih lama. Terapi antiretroviral dapat memperlambat perkembangan AIDS dengan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam tubuh yang terinfeksi.

1. SITUASI HIV DAN AIDS DI INDONESIA 1987 – 2006

Situasi HIV dan AIDS dalam kurun waktu 9 tahun yang semula meningkat
perlahan-lahan, sejak tahun 2000 peningkatannya sangat tajam.

1.1. Situasi tahun 1987 – 2002
Pada 10 tahun pertama periode ini peningkatan jumlah kasus HIV dan AIDS
masih rendah. Pada akhir 1997 jumlah kasus AIDS kumulatif 153 kasus dan
HIV positif baru 486 orang yang diperoleh dari serosurvei di daerah sentinel.
Penularan 70 % melalui hubungan seksual berisiko.Pada akhir abad ke 20
terlihat kenaikan yang sangat berarti dari jumlah kasus AIDS dan di
beberapa daerah pada sub-populasi tertentu, angka prevalensi sudah
mencapai 5%, sehingga sejak itu Indonesia dimasukkan kedalam kelompok
negara dengan epidemi terkonsentrasi. Jumlah kasus AIDS pada tahun
2002 menjadi 1016 kaus dan HIV positiv 2552 kasus.

Peningkatanyang cukup tajam disebabkan penularan melalui penggunaan jarum suntik
tidak steril di sub-populasi pengguna napza suntik (penasun) meningkat
pesat sementara penularan melalui hubungan seksual berisiko tetap
berlansung.

1.2. Situasi tahun 2003 – 2006
Sejak awal abad ke 21 peningkatan jumlah kasus semakin mencemaskan.
Pada akhir tahun 2003 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan bertambah 355
kasus sehingga berjumlah 1371 kasus, semantara jumlah kasus HIV positif
mejadi 2720 kasus.Pada akhir tahun 2003 25 provinsi telah melaporkan
adanya kasus AIDS.

2. DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI

2.1. Dampak terhadap demografi
Salah satu efek jangka panjang endemi HIV dan AIDS yang telah meluas
adalah dampaknya pada indikatordemografi. Karena tingginya proporsi kelompok
umur yang lebih mudaterkena penyakit yang membahayakan ini, dapat diperkirakan nantinya akan menurunkan angka harapan hidup. Karena semakin banyak orang
yang diperkirakan hidup dalam jangka waktu yang lebih pendek, kontribusi
yang diharapkan dari mereka pada ekonomi nasional dan perkembangan
sosial menjadi semakin kecil dan kurang dapat diandalkan. Hal ini menjadi
masalah yang penting karena hilangnya individu yang terlatih dalam jumlah
besar tidak akan mudah dapat digantikan.

2.2. Dampak terhadap sistem pelayanan kesehatan
Tingginya tingkat penyebaran HIV dan AIDS pada kelompok manapun
berarti bahwa semakin banyak orang menjadi sakit, dan membutuhkan jasa
pelayanan kesehatan. Perkembangan penyakit yang lamban dari infeksi HIV
berarti bahwa pasien sedikit demi sedikit menjadi lebih sakit dalam jangka
waktu yang panjang, membutuhkan semakin banyak perawatan kesehatan.
Biaya langsung dari perawatan kesehatan tersebut semakin lama akan
menjadi semakin besar. Diperhitungkan juga adalah waktu yang dihabiskan
oleh anggota keluarga untuk merawat pasien, dan tidak dapat melakukan
aktivitas yang produktif. Waktu dan sumber daya yang diberikan untuk
merawat pasien HIV dan AIDS sedikit demi sedikit dapat mempengaruhi
program lainnya dan menghabiskan sumber daya untuk aktivitas kesehatan
lainnya.

2.3. Dampak terhadap ekonomi nasional
Mengingat bahwa HIV lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka
yang berada pada umur produktif utama (94% pada kelompok usia 19
sampai 49 tahun), epidemi HIV dan AIDS memiliki dampak yang besar
pada angkatan kerja, terutama di daerah yang terpencil. HIV dan AIDS
juga berperan dalam berkurangnya moral pekerja (takut akan diskriminasi,
kehilangan rekan kerja, rasa khawatir) dan juga pada penghasilan pekerja
akibat meningkatnya permintaan untuk biaya perawatan medis dari pusat
pelayanan kesehatan para pekerja, pensiun dini, pembayaran dini dari dana
pensiun akibat kematian dini, dan meningkatnya biaya asuransi.
Pengembangan program pencegahan dan perawatan HIV di tempat kerja
yang kuat dengan keikutsertaan organisasi manajemen dan pekerja
sangatlah penting bagi Indonesia.
Perkembangan ekonomi akan tertahan apabila epidemi HIV menyebabkan
kemiskinan bagi para penderitanya sehingga meningkatkan kesenjangan
yang kemudian menimbulkan lebih banyak lagi keadaan yang tidak stabil.

2.4. Dampak terhadap tatanan sosial
Adanya stigma dan diskriminasi akan berdampak pada tatanan social masyarakat. Penderita HIV dan AIDS dapat kehilangan kasih sayang dankehangatan pergaulan sosial. Sebagian akan kehilangan pekerjaan dansumber penghasilan yang pada akhirnya menimbulkan kerawanan sosial.Sebagaian mengalami keretakan rumah tangga sampai perceraian. Jumlahanak yatim dan piatu akan bertambah yang akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh sebab itu keterbukaan dan hilangnya stigma dan diskriminasisangat perlu mendapat perhatianagar AIDS dapat ditanggulangi.

4. FAKTOR – FAKTOR YANG MENYEBABKAN MENINGKATNYA KASUS AIDS
4.1 Para Pengguna obat – obatan terlarang dan Alkohol dikalangan remaja

Jumlah pengguna obat-obat terlarang di Indonesia terus meningkat
terutama di kalangan remaja dan kelompok dewasa muda. Dan sebagaian dari para remaja menggunakan NAPZA lewat jarum suntik.Hal ini sangat mengkhawatirkan karena penularan HIV dapat terus meningkat lewat jarum suntik dan NAPZA. Masalah menjadi semakin sulitkarena ketidak pedulian akan bahaya tertular seperti ditunjukkan hasilsurvei perilaku tahun 2002 sekitar dua per tiga remaja yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki resiko terinfeksi juga menyatakan bahwamereka telah menggunakan peralatan untuk menggunakan NAPZA secara bersama-sama.

4.2. Mobilitas Penduduk
Pembangunan fisik yang dilakukan di daerah urban dan lapangan kerja yangsempit di daerah pedesaan,menyebabkan arus urbanisasi ke kota-kotabesar Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Pekerja di daerah industridan proyek pembangunan fisik didominasi oleh laki-laki, sedangkankelompok perempuan mendominasi pekerjaan domestik. Dominasi dari satujenis kelamin di setiap jalur urbanisasi menunjukkan bahwa para pendatangini hidup membujang dan berpotensi untuk berperilaku risiko tinggi.Membaiknya sarana transportasi juga berdampak terhadap peningkatanmobilitas penduduk. Migrasi antar negara juga perlu diperhitunkan diperhitungkan sebagai
potensi masuknya HIV ke suatu negara. Jumlah tenaga kerja Indonesiayang bekerja di luar negeri bertambah dari tahun ketahun. Sebagian besarberusia muda, dengan pengetahuan yang sangat minim tentang HIV danAIDS.

4.3. Narapidana
Dari jumlah penghuni Lembaga pemasyarakatan (Lapas) di Indonesiasebesar 101.036 orang, ternyata 23.409 diantaranya adalah narapidanadalam pelanggaran narkotika. Sekitar 70% dari mereka adalah penggunaNAPZA (17.088) dan 40% dari pengguna NAPZA adalah penasun. Lapas merupakan tempat yang beresiko sangat tinggi untuk penyebaranHIV, karena terjadinya praktek perilaku berisiko. Keadaan ini diperparahdengan minimnya pelayanan kesehatan dan tingkat penghunian yangmelebihi kemampuan. Petugas penjara menerima sangat sedikit informasimengenai HIV dan AIDS.Walaupun beberapa narapidana telah terinfeksi di luar penjara, terdapat kemungkinan adanya infeksi baru yang terjadi di dalam penjara yang
diakibatkan oleh perilaku berisiko tinggi di kalangan narapidana sendiri. Para narapidana positif HIV yang sudah selesai menjalani hukuman akankembali ke masyarakat dan bila tidak didampingi dengan benar, akanmenjadi sumber penularan baru bagi keluarga dan orang lain.

4.4. Hubungan seks berisiko
Suatu ciri khas yang penting dari daerah industri termasuk industripariwisata yang padat dan mobilitas populasi yang tinggi adalahberkembangnya hubungan seks berisiko. Jumlah penjaja seks (PS) baikperempuan maupun laki-laki meningkat dari tahun ketahun. PS lansung
berada si lokasi , lokalisasi dan ditempat-tempat umum, dan PS tidak lansung umumnya berada di lingkungan bisnis hiburan seperti karaoke, bar,salon kecantikan, pati pijat, dsb.
PS merupakan oaring yang memilki kemungkinan terbesar berperilaku sek risiko tinggi (risti)bersama dengan waria, lelaki suka lelaki (LSL). Menurutestimasi Depkes tahun 2006 jumlah wanita PS (WPS) 177.200 -265.000orang,waria penjaja seks 21.000 – 35.000 orang dan LSL berjumlah384.000 – 1.148.000 orang. Jumlah pelanggan mereka jauh lebih banyak
yaitu 2.435.000 – 3.813.000 untuk WPS, 62.000 – 104.000 untuk waria.Lelaki PS semakin meningkat jumlahnya di kota besar. Pertumbuhanekonomi di daerah perkotaan dan pelemahan ekonomi pedesaandikhawatirkan akan meningkatkan jumlah WPS lebih pesat. Bilamana upaya
melakukan seks aman bagi mereka dan pelanggannya tidak berjalan baik,
maka penyebaran HIV melalui modus ini akan terus berlansung. Keadaan diPapua akan semakin buruk karena pelanggan WPS membawa HIV kepedesaan.Homoseksual dan biseksual masih tetap merupakan kelompok yangtermarginalkan di Indonesia. Meskipun merupakan faktor penting dalampenyebaran HIV, namun masih sedikit kampanye pencegahan yangmembahas secara spesifik masalah yang berkaitan dengan homoseksualitasdan biseksualitas. Marginalisasi telah memaksa banyak pria homoseksualyang menjalani kehidupan biseksual dimana kehidupan homoseksual yangterselubung ditutupi oleh kehidupan heteroseksual yang sesuai nilai-nilaikomunitas, sehingga menyulitkan untuk dapat menjangkau kelompok yangrentan ini dengan pesan-pesan yang dapat mereka rasakan sesuai dengankondisi mereka. Marginalisasi juga berarti bahwa konteks sosial darikomunitas homoseksual didominasi oleh kurangnya kepercayaan dan
komunikasi terbuka, kurangnya penyebaran informasi dan perilaku seksyang tidak aman. Kondisi tersebut memberi dampak kepada komunitasyang lebih luas melalui perilaku biseksual, yang masih belum diakui secaraumum sebagai beresiko tinggi menyebarkan HIV.

5. Kendala dalam penanggulangan HIV/AIDS
Dalam upaya penanggulangan HIV danAIDS di Indonesia masih banyak sekali
berbagai tantangan yang perlumendapat perhatian. Tantangan-tantangan tersebut adalah sebagai berikut:

5.1. Norma-Norma dan Perilaku Sosial

Sifat dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia juga mempengaruhijalannya epidemi. Banyak kalangan masih menyebarkan pesan ketidaksukaannya terhadap kampanye penggunaan kondom untuk hubungan seks yang aman. Komunikasi yang buruk di antara pasangan dalam kebutuhandan kecemasan seksual mereka ditambah dengan rasa ketergantungan perempuan terhadap laki-laki baik secara emosi maupun sosial-ekonomi,telah mengurangi kemampuan perempuan untuk meminta hubunan seks yang aman. Faktor-faktor tersebut seringkali diperparah oleh tingginya aksi kekerasan seksual di sebagian komunitas, dan fakta bahwa aktivitas seksual
di antara anak muda seringkali dimulai jauh pada usia yang lebih muda daripada yang diperkirakan oleh orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya. Karena secara sosial “tabu” untuk dibicarakan, menyebabkan sulitnya
mengajarkan atau mendiskusikan seks dengan kaum remaja serta menghalangi dimasukannya pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah. Pandangan negatif pada hubungan seks sesama jenis mengakibatkan baik individu maupun kelompok sosial sama-sama enggan mengakui adanya resiko yang nyata; banyak LSL juga melakukan hubungan seks dengan perempuan, sehingga meningkatkan resiko penularan kepada perempuan dan anak-anak. Meskipun kondom kini lebih mudah diperoleh, penerimaan masyarakat yang masih terbatas mengurangi penggunaannya. Konsumsi alkohol yang luas dan berlebihan serta zat-zat lainnya, terutama di
kalangan anak muda, seringkali berperan sebagai faktor yang melepas kendali diri dan menjadi penyalur kekerasan seksual serta perilaku resiko tinggi lainnya. Agar dapat berhasil, kampanye pencegahan harus mengakui dan menghadapi faktor-faktor tersebut secara realistis.

5.2. Koordinasi multipihak terhadap Respon
Pengalaman dari banyak negara memperlihatkan kenyataan bahwa suatu respon yang efektif terhadap HIV harus didasarkan oleh keikutsertaan semua sektor pemerintahan sebagai membimbing bagi pelibatan masyarakat. Dukungan oleh pemerintah di tingkat elite dan komitmen politik sangat penting untuk suksesnya usaha apapun dalam jangka panjang. Meskipun banyak pemuka masyarakat telah berbicara secara terbuka mengenai pentingnya penanggulangan epidemi ini, masih diperlukan adanya kemauan politis, komitmen, dan dinamika yang nyata dan berkelanjutan serta kepemimpinan yang tidak diragukan danmenyentuh banyak orang dalam melawan epidemi ini. Hal ini dapat semakin diperlukan di banyak propinsi dan kabupaten setelah proses desentralisasi, dimana banyak pemerintahan lokal lebih berfokus pada proyek fisik yang
nyata dan perlu dihimbau untuk lebih memperhatikan dan mendukung program pencegahan HIV.

5.4. Memenuhi Kebutuhan Para Remaja dan Dewasa Muda
Satu aspek yang penting pencegahan HIV diarahkan pada kelompok remajadan dewasa muda. Kenyataan bahwa 57,8% kasus AIDS (2006) berasal dari kelompok umur 15 – 29 tahun mengindikasikan bahwa mereka tertular HIV pada umur yang masih sangat muda. Hal ini sejalan pula dengan fakta bahwa penyalahguna NAPZA sebagian besar adalah remaja dan dewasa muda. Hampir 30% populasi Indonesia berumur antara 10 sampai 24 tahun, dan mereka ini seharusnya menjadi sasaran edukasi dan penyuluhan yang benar agar tidak masuk kedalam kelompok yang berperilaku sek risiko tinggi.
Kontak seksual dini membawa resiko tinggi infeksi HIV. Banyak survey mengungkapkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa pengalaman seksual pertama mereka dimulai pada usia yang sangat muda. Informasi ini mengejutkan banyak orang dewasa, termasuk orang tua dan guru yang sering kali menghalangi upaya pemberian informasi mengenai seks dan kesehatan reproduksi pada anak di usia yang semuda itu.

Banyakprogram keterampilan hidup dan kesehatan reproduksi lainnya yang diarahkan pada anak muda difokuskan pada kelompok umur yang lebih tua; namun bukti ini menunjukkan perlunya memberikan informasi tersebut pada usia yang jauh lebih muda. Statistik saat ini menunjukkan hamper 60% anak perempuan di desa tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SD, sehingga mereka tidak akan mendapatkan kurikulum keterampilan hidup apabila hanya diberikan di SMA.

5.5. Resiko Khusus yang Dihadapi Anak Perempuan
Perempuan sangat rentan terinfeksi pada umur muda, dimana fenomena ini merupakan refleksi dari kondisi sosial yang terjadi di beberapa komunitas. Tekanan dari teman sebaya pada anak perempuan untuk melakukan hubungan seksual dini dan masalah tersembunyi dari hubungan seksual paksaan, pemerkosaan, inses, dan kekerasan rumah tangga yang harus
ditanggung anak perempuan.Anak muda, terutama perempuan, juga dihadapkan pada kekerasan dan eksploitasi seksual, umumnya dihubungkan dengan kemiskinan dan keluarga yang disfungsional. Anak-anak yang mengalami kekerasan seksual di masa muda, umumnya kehilangan harga diri dan perasaan kendali atas kehidupan mereka sendiri, yang kemudian meningkatkan resiko penyalahgunaan NAPZA dan memasuki kehidupan seks lebih dini dan
terpapar pada HIV. Secara umum, kekerasan kepada perempuan pada umumnya dan anak perempuan pada khususnya terus meningkat. Meskipun sangat memprihatikan, isi-isu ini membutuhkan para pembuat keputusan untuk menghadapi kenyataan yang dialami mereka dan mengambilm langkah-langkah untuk melindungi mereka.

5.6. Kebutuhan Memperluas Perawatan, Pengobatan dan Dukungan
Memperbaiki ketersediaan dan kualitas dari perawatan bagi jumlah orang yang hidup dengan HIV AND AIDS yang meningkat harus menjadi prioritas. Sampai akhir 2006 pelayanan kesehatan untuk merespon meningkatnya
jumlah ODHA yang membutuhkan perawatan, pengobatan dan dukungan semakin meningkat.Peningkatan pelatihantenaga kesehatan harus terorganisasi untuk membuat mereka dapat menghasilkan kesempatan penting dalam meningkatkan nutrisi, sokonganpsikologis, pencegahan dan perawatan infeksi oportunis yang terjadi padaODHA. Program untuk memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan mengikutsertakan tidak hanya ketersediaan obat yang lebih baik, tapi juga peningkatan kualitas dan kerahasiaan data kesehatan.

5.7. Stigma dan Diskriminasi
Stigma dan diskrimansi terhadap ODHA walaupun sudah banyak berkurang dalam 5 tahun terakhir namun masih tetap merupakan tantangan yang bila tidak teratasi, potensial untuk menjadi penghambat upaya penanggulangan HIV dan AIDS terutama di daerah-daerah. Diskriminasi yang dialami ODHA baik pada unit pelayanan kesehatan, tempat kerja, lingkungan keluarga maupun di masyarakat umum haruslah tetap menjadi prioritas upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Oleh sebab itu perlu dukungan dan perberdayaan kelompok-kelompok dukungan sebaya (KDS) sebagai mitra kerja yang efektif dalam mengurangi stigma dan diskriminasi sekaligus pemberi dukungan bagi mereka yang membutuhkan.

BAB II
HAL – HAL DAN METODE KURATIF YANG DAPAT DILAKUKAN
DALAM PENAGANAN AIDS SERTA TUJUANNYA

1.1. Tujuan Umum penanggulangan HIV dan AIDS
Mencegah dan mengurangi penularan HIV, meningkatkan kualitas hidup
ODHA serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat HIV dan AIDS
pada individu, keluarga dan masyarakat.

1.2. Tujuan Khusus Penanggulangan HIV dan AIDS
• menyediakan dan menyebarluaskan informasi dan menciptakan
suasana kondusif untuk mendukung upaya penanggulangan HIV dan
AIDS, dengan menitikberatkan pencegahan pada orang yang berisiko
tinggi tertular AIDS
• Menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan,
pengobatan, dan dukungan kepada ODHA yang terintegrasi dengan
upaya pencegahan.
• Meningkatkan peran serta remaja, perempuan, keluarga dan
masyarakat umum termasuk ODHA dalam berbagai upaya
penanggulangan HIV dan AIDS.
• Mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara lembaga
pemerintah, Sekolah, sektor swasta dan dunia usaha, organisasi profesi,
dan mitra internasional di pusat dan di daerah untuk meningkatkan
respons nasional terhadap pencegahan HIV dan AIDS.

2. HAL – HAL YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN
DALAM PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS
Penularan dan penyebaran HIV dan AIDS sangat berhubungan dengan perilaku beresiko, oleh karena itu penanggulangan harus memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku tersebut. Bahwa kasus HIV dan AIDS diidap sebagian besar oleh kelompok perilaku resiko tinggi yang merupakan kelompok yang dimarginalkan, maka program-program pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan pertimbangan keagamaan, adat-istiadat dan normanorma masyarakat yang berlaku disamping pertimbangan kesehatan. Perlu adanya program-program pencegahan HIV dan AIDS yang efektif dan memiliki jangkauan layanan yang semakin luas dan program-program pengobatan, perawatan dan dukungan yang komprehensif bagi ODHA maupun OHIDA untuk meningkatkan kualitas hidupnya.Adapu hal – hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

• Upaya pencegahan HIV dan AIDS pada anak sekolah, remaja dan
masyarakat umum diselenggarakan melalui kegiatan komunikasi,
informasi dan edukasi guna mendorong kehidupan yang lebih sehat.

• Upaya penanggulangan HIV dan AIDS harus memperhatikan nilai-nilai
agama dan budaya/norma kemasyarakatan dan kegiatannya diarahkan
untuk mempertahankan dan memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan
keluarga;
• Upaya penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat,
Masyarakat dan Terutama pendidik menjadi pelaku utama sedangkan pemerintah berkewajiban mengarahkan,membimbing dan menciptakan suasana yang mendukung terselenggaranyaupaya penanggulangan HIV dan AIDS;
• Upaya penanggulangan harus didasari pada pengertian bahwa masalah HIV
dan AIDS sudah menjadi masalah sosial kemasyarakatan serta masalah bersama.
• Upaya pencegahan yang efektif termasuk penggunaan kondom 100% pada
setiap hubungan seks berisiko, semata-mata hanya untuk memutus rantai
penularan HIV.
• Upaya mengurangi infeksi HIV pada pengguna napza suntik melalui kegiatan
pengurangan dampak buruk (harm reduction) dilaksanakan secara
komprehensif dengan juga mengupayakan penyembuhan dari
ketergantungan pada napza.
• Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV and AIDS harus didahului
dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang
bersangkutan (informed consent). Konseling yang memadai harus
diberikan sebelum dan sesudah pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan
diberitahukan kepada yang bersangkutan tetapi wajib dirahasiakan kepada
fihak lain.
• Setiap pemberi pelayanan berkewajiban memberikan layanan tanpa
diskriminasi kepada ODHA dan OHIDA.

1. AREA PENCEGAHAN HIV DAN AIDS
Penyebaran HIV dipengaruhi oleh perilaku berisiko kelompok-kelompok masyarakat. Pencegahan dilakukan kepada kelompok-kelompok masyarakat sesuai dengan perilaku kelompok dan potensi ancaman yang dihadapi. Kegiatan – kegiatan dari pencegahan dalam bentuk penyuluhan, promosi hidup sehat, pendidikan sampai kepada cara menggunakan alat pencegahan yang efektif dikemas sesuai dengan sasaran upaya pencegahan.
Dalam mengemas program-program pencegahan dibedakan kelompok-kelompok sasaran sebagai berikut:
• Kelompok tertular (infected people)
Kelompok tertular adalah mereka yang sudah terinfeksi HIV. Pencegahan
ditujukan untuk menghambat lajunya perkembangan HIV, memelihara
produktifitas individu dan meningkatkan kwalitas hidup.
• Kelompok berisiko tertular atau rawan tertular (high-risk people)
Kelompok berisiko tertular adalah mereka yang berperilaku sedemikian
rupa sehingga sangat berisiko untuk tertular HIV. Dalam kelompok ini
termasuk penjaja seks baik perempuan maupun laki-laki, pelanggan
penjaja seks, penyalahguna napza suntik dan pasangannya, waria penjaja
seks dan pelanggannya serta lelaki suka lelaki. Karena kekhususannya,
narapidana termasuk dalam kelompok ini. Pencegahan untuk kelompok ini
ditujukan untuk mengubah perilaku berisiko menjadi perilaku aman.
• Kelompok rentan (vulnerable people)
Kelompok rentan adalah kelompok masyarakat yang karena lingkup
pekerjaan, lingkungan, ketahanan dan atau kesejahteraan keluarga yang
rendah dan status kesehatan yang labil, sehingga rentan terhadap
penularan HIV. Termasuk dalam kelompok rentan adalah orang dengan
mobilitas tinggi baik sipil maupun militer, perempuan, remaja, anak
jalanan, pengungsi, ibu hamil, penerima transfusi darah dan petugas
pelayanan kesehatan. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan agar
tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tertular HIV. (
Menghambat menuju kelompok berisiko)
• Masyarakat Umum (general population)
Masyarakat umum adalah mereka yang tidak termasuk dalam ketiga
kelompok terdahulu. Pencegahan ditujukan untuk peningkatkan
kewaspadaan, kepedulian dan keterlibatan dalam upaya pencegahan dan
penanggulangan HIV dan AIDS di lingkunagnnya.
1.1. Tujuan
Tujuan program-program pencegahan adalah agar setiap orang mampu
melindungi dirinya agar tidak tertular HIV dan tidak menularkan kepada
orang lain.
1.2. Program
Untuk mencapai tujuan pencegahan dengan berbagai sasaran maka
kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kelompokan dalam program –program
sebagai berikut:
• Program peningkatan pelayan konseling dan testing sukarela
Pelayanan konseling dan testing sukarela ditingkatkan jumlah dan
mutunya dengan melibatkan kelompok dukungan sebaya sehingga
mencapai hasil maksimal.

• Program peningkatan penggunaan kondom pada hubungan seks
berisiko
Peningkatan penggunaan kondom pada setiap hubungan seks
berisiko ditingkatkan untuk mencegah infeksi HIV dan IMS.
Penggunaan kondom perempuan dimungkinkan untuk digunakan
pada tempat-tempat yang memerlukan. Program mencakup juga
Intervensi Perubahan Perilaku (Behavior Change Intervention )

• Program pengurangan dampak buruk penyalahgunaan napza suntik
Pengurangan dampak buruk penyalahgunaan napza suntik untuk
mencegah penularan HIV dilaksanakan secara komprehensif dan
bersama-sama dengan semua pemangku kepentingan terkait.
Program juga dikaitkan dengan upaya pengurangan kebutuhan
napza suntik bagi penasun. Program diutamakan di seluruh provinsi
di Jawa dan ibu kota seluruh provinsi. Program mencakup juga
Intervensi Perubahan Perilaku (Behavior Change Intervention).
• Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak
Pencegahan penularan dari ibu HIV positif kepada bayinya
dilaksanakan terutama di daerah epidemi terkonsentrasi dan di
provinsi Papua dan Irian Jaya Barat.
• Program komunikasi publik
Komunikasi publik yang baik akan menurunkan derajat kerentanan
dari kelompok – kelompok rentan. Upaya ini dilakukan melalui
komunikasi, informasi, pendidikan, penyuluhan, tatapmuka,
pengurangan kemiskinan, pembinaan ketahanan keluarga dan
penyetaraan gender dengan menggunakan jalur komunikasi dan
media yang tersedia.

2. AREA PERAWATAN, PENGOBATAN DAN DUKUNGAN KEPADA ODHA

Peningkatan jumlah penderita AIDS memerlukan peningkatan jumlah dan mutu
layanan perawatan dan pengobatan. Peningkatan juga dilakukan bagi dukungan
maksimal kepada ODHA. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan klinis dan
pendekatan berbasis masyarakat dan keluarga. Universal Access yang bertujuan
memberikan kemudahan kepada mereka yang memerlukan untuk akses kepada
layanan perawatan dan pengobatan melandasi program – program pada area ini.
2.1. Tujuan
Mengurangi penderitaan akibat HIV dan AIDS dan mencegah penularan
lebih lanjut infeksi HIV serta meningkatkan kwalitas hidup ODHA.
3.1. Program
Untuk mencapai tujuan tersebut kegiatan-kegiatan yang dilakukan di
kelompokan dalam program –program sebagai berikut:
• Program peningkatan sarana pelayanan kesehatan
Jumlah dan mutu pelayan untuk konseling dan testing sukarela
(VCT), pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya (PMTC) dan
perawatan, pengobatan dan dukungan pada ODHA (CST)
ditingkatkan.
• Program peningkatan penyediaan, distribusi obat dan reagensia
Untuk memenuhi kebutuhan ODHA dan sejalan dengan peningkatan
jumlah sarana perawatan dan pengobatan, ketersediaan ARV, obat
infeksi oportunistik dan reagensia ditingkatkan jumlah dan mutunya
serta harganya diupayakan terjangkau.
Manajemen obat dan reagensia disempurnakan sehingga pengadaan
dan distribusi obat dan reagensia terjamin.
• Program pendidikan dan pelatihan
Peningkatan jumlah dan mutu pelayanan dan dukungan kepada
ODHA membutuhkan tenaga yang berilmu, terampil dan beretika.
Pendidikan dan pelatihan teknis diberikan kepada mereka yang
berkarya dalam upaya penanggulangan AIDS sesuai dengan bidang
kerjanya.
• Program peningkatan penjangkauan dan dukungan ODHA
agar mereka yang memerlukan
perawatan dan pengobatan dapat akses kepada pencegahan,
perawatan, pengobatan dan dukungan yang diperlukan.

BAB III
PENYELENGGARA UPAYA PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS

Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat dan pemerintah bersama-sama. Pemerintah meliputi departemen, kementerian, lembaga non departemen dan dinasdinas daerah serta TNI dan POLRI. Masyarakat meliputi Pendidik, swasta dan dunia usaha, civil soceity lainnya dan masyarakat umum.

Para pemangku kepentingan mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing dan bekerja sama dalam semangat kemitraan. Pokok-pokok tugas dan tanggung jawab masing-masing penyelenggara adalah sebagai berikut:

1. PEMERINTAH
Departemen, Kementerian, Lembaga Non- Departemen, TNI dan POLRI
membentuk Kelompok Kerja Penanggulangan HIV dan AIDS dan membuat
rencana pencegahan dan penanggulangan yang selaras dengan Stranas HIV dan
AIDS 2007 – 2010 sesuai dengan area kegiatan instansi bersangkutan.

2. MASYARAKAT SIPIL (CIVIL SOCEITY)
Civil soceity merupakan mitra kerja yang penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Lembaga Swadaya Masyarakat dan Organisasi Non- Pemerintah lainnya seperti Kelompok Dukungan Sebaya telah memberikan kontribusi yang bermakna karena mampu menjangkau sub-populasi berperilaku berisiko dan menjadi pendamping dalam proses perawatan dan pengobatan ODHA. Civil Soceity berperan dalam penyuluhan, pelatihan, pendampingan
ODHA, pemberian dukungan dan konseling serta melakukan pelayanan. Dimasa mendatang peran ini diharapkan meningkat dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Komisi Penanggulangan AIDS di semua tingkat menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga civil soceity dapat menjalankan perannya dengan tenang dan aman.

3. DUNIA USAHA DAN SEKTOR SWASTA
Jenis pekerjaan, lingkungan dan tempat kerja berpotensi bagi pekerja untuk terpapar HIV. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) telah mengakui bahwa HIV dan AIDS sebagai persoalan dunia kerja. Prinsip-prinsip utama Kaidah ILO tentang HIV dan AIDS dan Dunia Kerja perlu ditingkatkan implementasinya di dunia kerja Indonesia melalui kesepakatan tripartit. Implementasi Kaidah ILO tersebut dijabarkan dalam program penanggulangan HIV dan AIDS di dunia kerja dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan.

4. TENAGA PROFESIONAL, ORGANISASI PROFESI DAN LEMBAGA
PENDIDIKAN TINGGI
Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan pelibatan tenaga profesional baik secara individu maupun melalui organisasi profesi dan lembaga pendidikan tinggi.

5. KELUARGA DAN MASYARAKAT UMUM
Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan dukungan masyarakat luas. Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat mempunyai tugas penting dan sangat mulia sebagai benteng pertama dalam pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Ketahanan keluarga dalam arti yang sesungguhnya perlu tetap diupayakan dan ditingkatkan. Selain itu keluarga
mampu memberikan lingkungan yang kondusif bagi ODHA dengan berempati dan menjauhkan sikap diskriminatif terhadap mereka. Masyarakat Umum berperan membantu upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di lingkungan masing-masing dengan memberikan kemudahan dan meciptakan lingkungan yang kondusif. Untuk menjalankan fungsi tersebut,
masyarakat berhak menerima informasi yang benar tentang masalah HIV dan AIDS.

6. ORANG DENGAN HIV DAN AIDS (ODHA)
Peranan ODHA dalam upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS di masa mendatang semakin penting. Selaras dengan prinsip Greater Involvement of People with AIDS (GIPA) ODHA berhak berperan pada semua tingkat proses pecegahan dan penanggulangan mulai dari tingkat perumusan kebijakan sampai pada monitoring dan evaluasi. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, ODHA baik secara individual maupun organisasi meningkatkan persiapan diri.
Seimbang dengan hak-haknya, ODHA bertanggung jawab untuk mencegah penularan HIV kepada pasangannya dan orang lain.

Daftar Pustaka

UNAIDS (2004) Pria dan AIDS – Suatu Pendekatan Jender. Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), 20 Avenue Appiia – 1211 Geneva 27 – Swityerland.

________(2005) AIDS Epidemic Update; Desember 2005. Availabe from: http://www.who.int [Accessed, 16 Juli 2007].

Padgett, S. M., Bekemeler, B., & Berkowitz, B., (2004), “Collaborative Partnership at the State Level: Promoting Systems Changes in Public Health Infrastructure”. Journal of Public Health Management Practice, 10(03),251-257.

Julianto, I., (2002) Jika Ia Anak Kita AIDS dan Jurnalisme Empati. Jakarta: Buku Kompas.

Israel, B. A., Parker, E. A., Becker, A. B., (1998) Review of Community- based Research: Assesing partnership approaches to improve public health. Annual Review of Public Health, 19, 173-202.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s