KARAKTERISTIK KONSELOR


Ada pertanyaan menarik dari salah seorang teman mengenai karakteristik konselor yang ideal dalam kaitannya dengan profesionalitas konselor itu sendiri. Hal ini membuat penulis tertarik untuk membahas bagaimana pribadi atau karakteristik ideal dari seorang konselor sebagai tenaga profesional. Menurut Cavanagh (1982) ia mengemukakan bahwa kualitas pribadi konselor ditandai dengan beberapa karakteristik sebagai berikut :

  1. Pengetahuan Mengenai Diri Sendiri (Self-knowledge)

Disini berarti bahwa konselor mawas diri atau memahami dirinya dengan baik, dia memahami secara nyata apa yang dia lakukan, mengapa dia melakukan itu, dan masalah apa yang harus dia selesaikan. Pemahaman ini sangat penting bagi konselor, karena beberapa alasan sebagai berikut.

a) Konselor yang memilki persepsi yang akurat akan dirinya maka dia juga akan memilki persepsi yang kuat terhadap orang lain.

b) Konselor yang terampil memahami dirinya maka ia juga akan memahami orang lain.

  1. Kompetensi (Competence)

Kompetensi dalam karakteristik ini memiliki makna sebagai kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial, dan moral yang harus dimiliki konselor untuk membantu klien. kompetensi sangatlah penting, sebab klien yang dikonseling akan belajar dan mengembangkan kompetensi-kompetensi yang diperlukan untuk mencapai kehidupan yang efektif dan bahagia. Adapun kompetensi dasar yang seyogianya dimilki oleh seorang konselor, yang antara lain :

a. Penguasaan wawasan dan landasan pendidikan

b. Penguasaan konsep bimbingan dan konseling

c. Penguasaan kemampuan assesmen

d. Penguasaan kemampuan mengembangkan progaram bimbingan dan konseling

e. Penguasaan kemampuan melaksanakan berbagai strategi layanan bimbingan dan konseling

f. Penguasaan kemampuan mengembangkan proses kelompok

g. Penguasaan kesadaran etik profesional dan pengembangan profesi

h. Penguasaan pemahaman konteks budaya, agama dan setting kebutuhan khusus

  1. Kesehatan Psikologis yang Baik

Seorang konselor dituntut untuk dapat menjadi model dari suatu kondisi kesehatan psikologis yang baik bagi kliennya, yang mana hal ini memiliki pengertian akan ketentuan dari konselor dimana konselor harus lebih sehat kondisi psikisnya daripada klien. Kesehatan psikolpgis konselor yang baik sangat penting dan berguna bagi hubungan konseling. Karena apabila konselor kurang sahat psikisnya, maka ia akan teracuni oleh kebutuhan-kebutuhan sendiri, persepsi yang subjektif, nilai-nilai keliru, dan kebingungan.

  1. Dapat Dipercaya (trustworthness)

Konselor yang dipercaya dalam menjalankan tugasnya memiliki kecenderungan memilki kualitas sikap dan prilaku sebagai berikut:

a) Memilki pribadi yang konsisten

b) Dapat dipercaya oleh orang lain, baik ucapannya maupun perbuatannya.

c) Tidak pernah membuat orang lain kesal atau kecewa.

d) Bertanggung jawab, mampu merespon orang lain secara utuh, tidak ingkar janji dan mau membantu secara penuh.

  1. Kejujuran (honest)

Yang dimaksud dengan Kejujuran disini memiliki pengertian bahwa seorang konselor itu diharuskan memiliki sifat yang terbuka, otentik, dan sejati dalam pembarian layanannya kepada konseli. Jujur disini dalam pengertian memiliki kongruensi atau kesesuaian dalam kualitas diri actual (real-self) dengan penilain orang lain terhadap dirinya (public self). Sikap jujur ini penting dikarnakan:

1. Sikap keterbukaan konselor dan klien memungkinkan hubungan psikologis yang dekat satu sama lain dalam kegiatan konseling.

2. Kejujuaran memungkinkan konselor dapat memberikan umpan balik secara objektif terhadap klien.

  1. Kekuatan atau Daya (strength)

Kekuatan atau kemampuan konselor sangat penting dalam konseling, sebab dengan hal itu klien merasa aman. Klien memandang seorang konselor sebagi orang yang, tabaha dalam menghadapi masalah, dapat mendorong klien dalam mengatasi masalahnya, dan dapat menanggulangi kebutuhan dan masalah pribadi.

Konselor yang memilki kekuatan venderung menampilkan kualitas sikap dan prilaku berikut.

1. Dapat membuat batas waktu yang pantas dalam konseling

2. Bersifat fleksibel

3. Memilki identitas diri yang jelas

  1. Kehangatan (Warmth)

Yang dimaksud dengan bersikap hangat itu adalah ramah, penuh perhatian, dan memberikan kasih sayang. Klien yang datang meminta bantuan konselor, pada umumnya yang kurang memilki kehangatan dalam hidupnya, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk bersikap ramah, memberikanperhatian, dan kasih sayang. Melalui konseling klien ingin mendapatkan rasa hangat tersebut dan melakukan Sharing dengan konseling. Bila hal itu diperoleh maka klien dapat mengalami perasaan yang nyaman.

  1. Pendengar yang Aktif (Active responsiveness)

Konselor secara dinamis telibat dengan seluruh proses konseling. Konselor yang memiliki kualitas ini akan: (a) mampu berhubungan dengan orang-orang yang bukan dari kalangannya sendiri saja, dan mampu berbagi ide-ide, perasaan, (b) membantu klien dalam konseling dengan cara-cara yang bersifat membantu, (c) memperlakukan klien dengan cara-cara yang dapat menimbulkan respon yang bermakna, (d) berkeinginan untuk berbagi tanggung jawab secara seimbang dengan klien dalam konseling.

  1. Kesabaran

Melaui kesabaran konselor dalam proses konseling dapat membantu klien untuk mengembangkan dirinya secara alami. Sikap sabar konselor menunjukan lebih memperhatikan diri klien daripada hasilnya. Konselor yang sabar cenderung menampilkan sikap dan prilaku yang tidak tergesa-gesa.

  1. Kepekaan (Sensitivity)

Kepekaan mempunyai makna bahwa konselor sadar akan kehalusan dinamika yang timbul dalam diri klien dan konselor sendiri. Kepekaan diri konselor sangat penting dalam konseling karena hal ini akan memberikan rasa aman bagi klien dan klien akan lebih percaya diri apabila berkonsultasi dengan konselor yang memiliki kepekaan.

  1. Kesadaran Holistik

Pendekatan holistik dalam bidang konseling berarti bahwa konselor memahami secara utuh dan tidak mendekatinya secara serpihan. Namun begitu bukan berarti bahwa konselor seorang yang ahli dalam berbagai hal, disini menunjukan bahwa konselor perlu memahami adanya berbagai dimensi yang menimbulkan masalah klien, dan memahami bagaimana dimensi yang satu memberi pengaruh terhadap dimensi yang lainnya. Dimensi-dimensi itu meliputi aspek, fisik, intelektual, emosi, sosial, seksual, dan moral-spiritual.

Konselor yang memiliki kesdaran holistik cenderung menampilkan karakteristik sebagai berikut.

  • Menyadari secara akurat tentang dimensi-dimensi kepribadian yang kompleks.
  • Menemukan cara memberikan konsultasi yang tepat dan mempertimbangkan perlunya referal.
  • Akrab dan terbuka terhadap berbagai teori.

Analisis

Apabila hal-hal akan karakteristik konselor ini di refleksikan terhadap diri sendiri sebagai calon konselor, yang mana tentunya mau tidak mau diharuskan memenuhi berbagai macam karakteristik tersebut. Maka di dapat beberapa refleksi diri terhadap karakteristik konselor tersebut yang antara lain:

- Pengetahuan akan diri sendiri, dalam hal ini saya kurang labih memiliki pengetahuan diri sendiri sebesar 60 persen, akan tetapi saya bingung antara pengetahuan akan diri dengan keinginan diri.

- Kompetensi, disini saya diperkirakan telah memiliki kompetensi yang saya yakini sebesar 30 persen dari keseluruhan potensi yang ada.

- Kesehatan psikologis yang baik, sebsesar 70 persen saya yakin bahwa memiliki kesehatan psikologis yang baik.

- Dapat dipercaya, meduduki persentase sebesar 87 persen,

- Kejujuran, dapat dikatakan kejujuran ini 85,1 persen,

- Sedangkan apa bila dilihat dari segi pendengar aktif, kesabaran serta kepekaan terhadap situasi konseling memiliki keyakinan sebesar 50 persen.

Kesimpulan

Meskipun terdapat berbagai karakteristik yang harus dipenuhi untuk mencapainya proses konseling yang baik, disarankan seorang calon konselor untuk dapat selalu membenahi dan memperbaiki dirinya kearah yang labih baik dan lebih mendekatkan diri pada yang maha kuasa serta memperkuat ilmu agama agar konseling yang dilaksanakan lebih berjalan dengan baik serta sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada dalam agama. Selain itu, karakteristik konselor dapat mendorong timbulnya public trust terhadap diri seorang konselor.

Referensi:

  • Surya, Mohamad. (2003). Psikologi Konseling. Bandung: C.V. Pustaka Bani Quraisy
  • Syamsu, Yusuf, Juntika. 2005Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosda
    • Juntika, Ahmad. 2005. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Refika Aditama

Pengertian Kesulitan Belajar serta faktor Faktor Yang Mempengaruhinya


Ada beberapa pendapat mennrut para ahli tentang definisi dari kesulitan dalam belajar yakni sebagai berikut : 

Kesulitan belajar yang didefenisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman (2003 : 06) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
Di samping defenisi tersebut, ada definisi lain yang yang dikemukakan oleh The National Joint Commite for Learning Dissabilites (NJCLD) dalam Abdurrahman (2003 : 07) bahwa kesulitan belajar menunjuk kepada suatu kelompok kesulitan yang didefenisikan dalam bentuk kesulitan nyata dalam kematian dan penggunan kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi biologi
Sedangkan menurut Sunarta (1985 : 7) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah “kesulitan yag dialami oleh siswa-siswi dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkahlaku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa kesulitan belajar adalah suatu keadaan dalam proses belajar mengajar dimana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai manivestasi tingkahlaku, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Di samping kondisi umum itu, hal lain yang tidak kalah pentingnya diperhatikan adalah kondisi cacat tubuh yang merupakan salah satu penghambat dalam melakukan kegiatan belajar (Dalyono, 1997 : 232) menggolongkan cacat tubuh itu  menjadi 2 macam yaitu : Kesulitan Belajar
  1. Cacat tubuh yang ringan seperti kurang pandangan dan gangguan psikomotorik
  2. Cacat tubuh serius (tetap) buta, tuli, bisu, hilang ingatan dan kakinya.
Faktor Yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
Dalam belajar tidaklah selalu berhasil, tetapi sering kali hal-hal yang mengakibatkan kegagalan atau setidak-tidaknya menjadi gangguan yang menghambat kemajuan belajar. Kegagalan atau kesulitan belajar biasanya ada hal atau faktor yang menyebabkannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar adalah (a). Faktor internal yaitu faktor yang datang dari dalam diri sendiri, (b). Faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar diri seorang. (Koestoer PartoWisastro, Pengajaran Remedial (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 11)

1.    Faktor Internal ( dari dalam diri)
Faktor internal faktor internal adalah faktor yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri, yang dapat dibedakan atas beberapa faktor yaitu intelegensi, minat, bakat, dan kepribadian.
 

  • Faktor Intelegensi
    Intlegensi ini dapat mempengaruhi kesulitan belajar seorang anak. Keberhasilan belajar serang anak ditentukan dari tinggi rendahnya tingkat kecerdasan yang dimilikinya, dimana seorang anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi cendrung akan lebih berhasil dalam belajarnya dibandingkan dengan anak yang intelegensinya rendah.
  • Faktor Minat
    Faktor minat dalam belajar sangat penting. Hasil belajar akan lebih optimal bila disertai dengan minat. Dengan adanya minat mendorong kearah keberhasialan, anak yang berminat terhadap suatu pelajaran akan lebih mudah untuk mempelajarinya dan sebaliknya anak yang kurang berminat akan mengalami kesulitan dalam belajarnya.

    Dari pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa minat sangat diperlukan dalam belajar, karena minat itu sendiri sebagai pendorong dalam belajar dan sebaliknya anak yang kurang bermitat terhadap belajarnya akan cenderung mengalami kesulitan dalam belajarnya.

 

 
  • Faktor Bakat
    Bakat ini dapat menyebabkan kesulitan belajar, jika bakat ini kurang mendapatkan perhatian. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menjelaskan bahwa: bakat setiap orang berbeda-beda, orang tua kadang-kadang tidak memperhatikan faktor bakat ini(Singgih Gunarsa, Psikologi Keluarga (Jakarta : PT. Bina Rena Pertama, 1992), 13.). Anak sering diarahkan sesuai dengan kemauan orang tuanya, akibatnya bagi anak merupakan sesuatu beban, tekanan dan nilai-nilai yang ditetapkan oleh anak buruk serta tidak ada kemauan lagi untuk belajar.

    Dari pendapat tersebut, dapat dijelaskan bahwa adanya pemaksaan dari orang tua didalam mengarahkan anak yang tidak sesuai dengan bakatnya dapat membebani anak, memunculkan nilai-nilai yang kurang baik, bahkan dirasakan menjadi tekanan bagi anak yang akhirnya akan berakibat kurang baik terhadap belajar anak di sekolah.

  • Faktor Kepribadian
    Faktor kepribadian dapat menyebabkan kesulitan belajar, jika tidak memperhatikan fase-fase perkembangan (kepribadian) seseorang. Hal ini sebagaimana pendapatmenjelaskan bahwa: fase perkembangan kepribadian seseorang tidak selalu sama (Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta, 1992), 13). Fase pembentuk kepribadian ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak yang belum mencapai suatu fase tertentu akan mengalami kesulitan dalam berbagai hal termasuk dalam hal belajar.

    Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa tidak semua fase-fase perkembangan (keperibadian) ini akan berjalan dengan begitu saja tanpa menimbulkan masalah, malah ada fase tertentu yang menimbulkan berbagai persoalan termasuk dalam hal kesulitan dalam belajar.

2.    Faktor eksternal 
Faktor eksternal adalah merupakan faktor yang datang dari luar diri individu. Faktor eksternal ini dapat di bedakan menjadi tiga faktor yaitu 1). Faktor keluarga 2). Faktor sekolah 3). Faktor masyarakat. 

a.    Faktor Keluarga 
Peranan orang tua (kelurga) sebagai tempat yang utama dan pertama didalam pembinaan dan pengembangan potensi anak-anaknya. Namun tidak semua orang tua mampu melaksanakanya dengan penuh tanggung jawab.

Beberapa hal yang dapat menimbulkan persoalan yang bersumber dari keluarga adalah seperti: a). sikap orang tua yag mengucilkan anaknya, tidak mepercayai, tidak adil dan tidak mau menerime anaknya secara wajar, b). broken home, perceraian, percekcokan, c). Didikan yang otoriter, terlalu lemah dan memanjakannya, d). Orang tua tidak mengetahui kemampuan anaknya, sifat kepribadian, minat, bakat, dan sebagainya.( Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), 4-5)

Ada beberapa aspek yang dapat menimbulkan masalah kesulitan belajar seorang anak yaitu: a). Didikan orang tua yang keliru, b). Suasana rumah yang kurang aman dan kurang harmonis, c). Keadaan ekonomi orang tua yang lemah(Ibid, 32)

Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dapat menimbulkan persoalan atau sumber permasalahan adalah sikap orang tua yang mengucilkan anaknya, tidak mempercayai, tidak adil dan tidak mau menerima anaknya secara wajar, broken home, perceraian, percekcokan dan orang tua yang tidak tau kemampuan anaknya. 

b.    Faktor Lingkungan Sekolah 

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal setelah keluarga dapat menjadi masalah pada umumnya, dan khususnya masalah kesulitan belajar pada siswa.

Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa:

Lingkungan sekolah dapat menjadikan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar seperti: 

1).    Cara penyajian pelajaran kurang baik.
2).    Hubungan guru dan murid kurang harmonis.
3).    Hubungan antara burid dengan murid itu sendiri tidak baik
4).    Bahan pelajaran yang disajikan tidak dimengerti siswa, dan
5).    Alat-alat pelajaran yang tersedia kurang memadai(Ibid, 31.)

c.    Faktor Lingkungan Masyarakat 
Faktor lingkungan masyarakat sangat berperan di dalam pembentukan kepribadian anak, termasuk pula kemampuan/ pengetahuannya. Dimana lingkungan masyrakat yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, seperti: suka minum-minum minuman keras, penjudi dan sebagainya, dapat menghambat pembentukam kepribadiaan dan kemampuan, termasuk pula dalam proses belajar mengajar seorang anak.

Lingkungan masyarakat yang dapat mempengaruhi kesulitan belajar adalah:

  1. Mass Media, seperti bioskop, televisi, radio, surat kabar, majalah, komik
  2. Corak Kehidupan tetangga, seperti orang terpelajar dan cendekiawan, tetangga yang suka berjudi, pencuri, peminum, dan sebagainya(Ibid, 43)

Dalam perspektif Bimbingan Konseling dalam mengatasi kesulitan belajar peranan Bimbingan dan Konseling (BK) menjadi semakin penting di sekolah. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam satu sekolah akan didapati murid-murid yang memiliki masalah kesulitan belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut harus diarahkan dan diberi motivasi dalam bentuk bimbingan dan penyuluhan.

Untuk menyelenggarakan layanan ini dengan baik, salah satu syarat pokok yang dikuasai adalah memahami hakikat bimbingan dan konseling itu sendiri. Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberi bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta kehidupan pada umumnya (Sukardi, 1995: 6).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa bagi yang mendapat penyuluhan nantinya akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan memberikan sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyakat pada umumnya. Dikatakan demikian, karena dengan bimbingan akan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial.
Bimbingan dapat juga diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan (Sukardi, 1983: 12).
Dalam pengertian lain dikatakan bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada seseorang (individu) atau sekelompok orang agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini mencakup lima fungsi pokok, yakni (1) mengenal diri sendiri dan lingkungannya; (2) menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis; (3) mengambil keputusan; (4) mengarahkan diri; dan (5): mewujudkan diri. (Partowisastro: 1983: 7)
Dengan membandingkan pengertian bimbimbingan sebagaimana yang telah dikutip di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang secara terus menerus dan sistematis oleh pembimbing agar individu atau sekelompok individu menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian yang menjadi tujuan usaha bimbingan ini mencakup lima fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi yang mandiri yaitu:
1.  Mengenal diri sendiri dan lingkungannya sebagaimana adanya
2.  Menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis
3.  Mengambil keputusan
4.  Mengarahkan diri sendiri
5.  Mewujdukan diri sendiri.
Pemberian bimbingan dapat dilakukan dengan berbagai cara, serta menggunakan berbagai saluran dan bahan yang ada, misalnya memberi mereka kesempatan untuk membaca dan menelaah sebuah buku tentan sopan-santun, tata tertib, disiplin, cara belajar yang efektif, dan sebagainya.
Kata konseling dalam bahasa Indonesia diartikan dengan “penyuluhan”, yaitu bagian dari bimbingan, baik sebagai layanan maupun sebagai teknik. Layanan penyuluhan merupakan jantung hati dari usaha layanan bimbingan secara keseluruhan.
Sukardi (1983: 16) memberikan pengertian konseling sebagai suatu jenis layanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua orang individu, di mana yang seorang (konselor) berusaha membantu yang lain (klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan maslah-masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang.
Usaha yang dilakukan di dalam konseling ini hendaknya merupakan usaha yang laras, yaitu seimbang dan sesuai dengan masalah yang dialami oleh klien dan kemampuan konselor sendiri. Karena konseling merupakan pertemuan yang paling akrab antara dua orang, yaitu konselor dan klien, maka keakraban ini harus dibina dengan baik, sehingga tercipta suasana keterbukaan dan kekeluargaan. Hal ini penting dalam upaya menggali permasalahan dan menemukan solusi yang tepat.
Dengan memperhatikan pengertian bimbingan dan konseling sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka hendaknya usaha bimbingan dan konseling tersebut tidak dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh tenaga yang terlatih untuk itu. Keahlian yang dibutuhkan dalam bidang ini adalah mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan pandangan yang hendaknya disertai oleh kematangan pribadi dan kemauan yang kuat untuk melakukan bimbingan dan konseling.
Kepustakaan:
Sukardi, Dewa Ketut. 1983. Organisasi Administrasi Bimbungan dan Konseling di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional.
Sukardi, Dewa Ketut. 1995. Proses Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Partowisastro, H. Koestoer. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-sekolah. Jakarta: Erlangga.

Tips Menumbuhkan Kembali Motivasi Diri Siswa Melalui Bimbingan Klasikal


Bukan tidak ada alasan, mengapa masih ada rasa kurang percaya diri di sebagian siswa saat akan menghadapi Ujian Nasional. Mereka menganggap Ujian Nasional merupakan momen yang sangat menentukan nasib mereka ke depan, nasib mereka akan ditentukan hanya beberapa hari sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh Kemendikbud.

Pada tahun ini Kemendikbud merencanakan bahwa Ujian Nasional ( UN ) akan beda dengan tahun-tahun sebelumnya, perbedaan itu terletak pada bentuk soal. Soal UN pada tahun ini dibuat dengan bentuk 20 variasi soal. Dengan demikian dalam satu ruang sebanyak 20 siswa berarti setiap siswa akan menghadapi soal yang berbeda.

Melihat kenyataan demikian ada sebagian siswa muncul rasa kurang percaya dirinya.  Sejak menginjak kelas IX SMP atau XII SMA/SMK ada usaha baik yang dilakukan oleh orang tua maupun sekolah.

Orang Tua

  • Orang tua memberikan motivasi dengan cara memantau terus belajarnya di rumah
  • Memanggil guru privat khusus untuk memberikan bimbingan pelajaran yang di UN-kan
  • Mengirim anak di Lembaga Bimbingan Belajar

Sekolah

  • Ada waktu khusus disediakan untuk Bimbingan Belajar ( Bimbel ) dalam rangka persiapan UN
  • Motivasi yang selalu diberikan oleh guru
  • Mendatangkan Lembaga Bimbingan Belajar khusus membahas soal-soal UN
  • Mengadakan Try Out untuk mengetahui kesiapan siswa dalam menghadapi UN
  • Diadakan Istiqotsah khusus untuk mendoakan kesuksesan UN

Dari usaha-usaha di atas yang dilakukan oleh orang tua dan sekolah ternyata hanya sebagai pendukung kesuksesan siswa. Ada yang lebih penting dari faktor di atas adalah motivasi dari diri sendiri.

Sebenarnya tidak ada masalah bagi siswa, apapun bentuk soalnya UN nanti kalau semua siswa mempunyai motivasi diri yang tinggi yang dibarengi dengan kesiapan diri, belajar yang rajin serta berdoa dengan keyakinan yang tinggi maka akan muncul rasa percaya diri.

Masalah akan muncul pada diri siswa apabila mereka tidak siap, belajar kurang serius serta tidak ada pendekatan kepada Tuhannya, maka yang muncul adalah rasa ketakutan dan kekewatiran tidak lulus dalam menempuh UN nanti.

Peran Guru BK Dalam Menumbuhkan Kembali Motivasi Diri Siswa

Dalam Layanan Bimbingan dan Konseling salah satunya adalah layanan bimbingan klasikal yang diberikan oleh guru BK di kelas. Banyak materi yang dapat digunakan oleh guru BK dalam rangka memberikan motivasi kepada siswa.

Materi berbentuk media yang bisa disampaikan kepada siswa yang tidak menjenuhkan saat siswa menerima layanan klasikal oleh guru BK dapat dilihat pada Video Motivasi atau pada Media BK ( Power Point).

Dengan layanan Bimbingan klasikal yang disampaikan guru BK  ini diharapkan siswa lebih dapat termotivasi sehingga muncul rasa  percaya dirinya serta siap dalam mengahadapi Ujian Nasional dan dapat menerima apapun hasil yang diperolehnya nanti.

(Sumber http://mintotulus.wordpress.com/)

 


Sekilas Tentang Pengertian Layanan BK

Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian tetang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu muncul rumusan tetang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melengkapi satu sama lain.

Maka untuk memahami pengertian dari bimbingan perlu mempertimbangkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :

“Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951).

Frank Parson merumuskan pengertian bimbingan dalam beberapa aspek yakni bimbingan diberikan kepada individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan dalam jabatan. Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir.

“Bimbingan membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri” (Chiskolm,1959).

Pengertian bimbingan yang dikemukan oleh Chiskolm bahwa bimbingan membantu individu memahami dirinya sendiri, pengertian menitik beratkan pada pemahaman terhadap potensi diri yang dimiliki.

“Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu” (Bernard & Fullmer ,1969).

Pengertian yang dikemukakan oleh Bernard & Fullmer bahwa bimbingan

dilakukan untuk meningkatakan pewujudan diri individu. Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan lingkungannya.

“Bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik” (Mathewson,1969).

Mathewson mengemukakan bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan pada proses belajar. Pengertian ini menekankan bimbingan sebagai bentuk pendidikan dan pengembangan diri, tujuan yang diinginkan diperoleh melalui proses belajar.

Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat diambil kesimpulan tentang pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa bimbingan adalah :

“Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”

Layanan-Layanan Bimbingan

1. Layanan Pengumpulan data
2. Layanan Informasi
3. Layanan penempatan
4. Layanan konseling kelompok dan individu
5. Layanan referal
6. Layanan pembelajaran
7. Layanan bimbingan kelompok
8. Layanan konsultasi
9. Layanan konferensi kasus
10. Layanan home visit

2.2 Tujuan Bimbingan dan konseling di Sekolah

a. Tujuan diberikannya layanan Bimbingan dan Konseling

Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko.
Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif.
Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalamberinteraksi dengan orang lain.
Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial
Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif
Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif.
Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai, dan kompetensi yang mendukung pilihan karir.
Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat

b. Tujuan bimbingan konseling di sekolah

Pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi yang

hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling.

Fungsi-fungsi tersebut adalah :

Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik pemahaman meliputi :

Pemahaman tentang diri sendiri peserta didik terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.
Pemahaman tentang lingkungan peserta didik (termasuk didalamnya lingkungan keluarga dan sekolah) terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.
Pemahaman lingkungan yang lebih luas (termasuk didalamnya informasi jabatan/pekerjaan, informasi social dan budaya/nilainilai) terutama oleh peserta didik.

Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya dan terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya. Fungsi penuntasan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta didik.
.Fungsi pemeliharaan dan pengembangan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya danterkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana terkandung didalam masing-masing fungsi itu. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasilhasil yang dicapainya secara jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi

2.3 Pelaksanaan Bimbingan Konseling di SLTA

a. Bimbingan Konseling di Sekolah Mengah

Tujuan pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh pandangan umum; demi mutu keberhasilanakademis seperti persentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, atau persentase kelanjutan ke perguruan tinggi negeri. Kenyataan ini sulit dimungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulum menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah umum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau penyiapan peserta didik (sekolah menengah kejuruan/SMK) agar sanggup memasuki dunia kerja.

Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi akan melulu memperhatikan sisi materi pelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Betapa pembentukan pribadi, pendampingan pribadi, pengasahan nilai-nilai kehidupan (values) dan pemeliharaan kepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi demikian diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran konselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi sekadar sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yang sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai “musuh” bagi siswa bermasalah atau nakal. merujuk pada rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam beberapa hal. Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup. Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung oleh mekanisme struktural di suatu sekolah.

Proses cura personalis di sekolah dapat dimulai dengan menegaskan pemilahan peran yang saling berkomplemen. Bimbingan konseling dengan para konselornya disandingkan dengan bagian kesiswaan. Wakil kepala sekolah bagian kesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner dan hal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tata tertib. Siswa mbolosan, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukan lagi konselor yang menegur dan memberi sanksi. Reward dan punishment, pujian dan hukuman adalah dua hal yang mesti ada bersama-sama. Pemilahan peran demikian memungkinkan BK optimal dalam banyak hal yang bersifat reward atau peneguhan. Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak dalam tindakan hukum-menghukum.

Kedudukan guru pembimbing dalam penanganan efektif memegang peranan utama. Ia sekaligus sebagai perencana, pelaksana, pengelola, pengendali, penilai, dan pada akhirnya menjadi pelapor dari hasil pelaksanaan layanannya. Pengertian instrument utama disini memang tepat karena ia menjadi segala-galanya dari keseluruhan proses bimbingan konseling. Dia pulalah yang menggerakkan staf personil pelaksana yang terkait untuk melaksanakan bimbingan sesuai dengan kewajiban dan tugas mereka dalam bimbingan dan konseling. Guru pembimbinglah yang memberikan bentuk nyata bimbingan dan konseling disekolahnya, bukan hanya bentuk abstrak yang ada dalam pikirannya. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dilapangan, maka tidak ada pilihan lain dan hanya dialah yang pertama-tama harus tampil, bukan alat dan perlengkapan serta fasilitas lainnya.

Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalam pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap pencarian diri. Orang-orang muda di sekolah menengah lazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segala sumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Namun, jika melakukan hal-hal yang positif atau kebaikan, kering pujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa ketimpangan ini membentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran diri negatif belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah bertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukan pribadi-pribadi yang tidak seimbang.

BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswas akan privacy-nya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka.

Tantangan pertama untuk memulai suatu proses pendampingan pribadi yang ideal justru datang dari faktor-faktor instrinsik sekolah sendiri. Kepala sekolah kurang tahu apa yang harus mereka perbuat dengan konselor atau guru-guru BK. Ada kekhawatiran bahwa konselor akan memakan “gaji buta”. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugas-tugas mengajar keterampilan, sejarah, jaga kantin, mengurus perpustakaan, atau jika tidak demikian hitungan honor atau penggajiannya terus dipersoalkan jumlahnya. Sesama staf pengajar pun mengirikannya dengan tugas-tugas konselor yang dianggapnya penganggur terselubung. Padahal, betapa pendampingan pribadi menuntut proses administratif dalam penanganannya.

BK yang baru dilirik sebelah mata dalam proses pendidikan tampak dari ruangan yang disediakan. Bisa dihitung dengan jari, berapa jumlah sekolah yang mampu (baca: mau!) menyediakan ruang konseling memadai. Tidak jarang dijumpai, ruang BK sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat tirai), atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet. Betapa mendesak untuk dikedepankan peran BK dengan mencoba menempatkan kembali pada posisi dan perannya yang hakiki. Menaruh harapan yang lebih besar pada BK dalam pendampingan pribadi, sekarang ini begitu mendesak, jika mengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap saja menjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkan semua itu, butuh perubahan paradigma para kepala sekolah menengah dan semua pihak yang terlibat didalam proses kependidikan.

b. Program Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling merupakan kegiatan layanan dan kegiatan pendukung yang akan dilaksanakan pada periode tertentu.

1. Jenis Program

a. Program tahunan yang didalamnya meliputi program semesteran dan bulanan yaitu program yang akan dilaksanakan selama satu tahun pelajaran dalam unit semesteran dan bulanan. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masingmasing kelas. Program tahunan dipecah menjadi program semesteran dan program semesteran dipecah menjadi program bulanan.

b. Program bulanan yang didalamnya meliputi program mingguan dan harian, yatiu program yang akan dilaksanakan selama satu bulan dalam unit mingguan dan harian. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan selama satu bulan untuk kurun bulan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya dengan modifikasi sesuai dengan kebutuhan siswa. Program bulanan merupakan jabaran dari program semesteran, sedangkan program mingguan merupakan jabaran dari program bulanan.

c. Program harian yaitu program yang akan dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan untuk kelas tertentu. Program ini dibuat secara teretulis pada satuan layanan (satlan) dan atau kegiatan pendukung (satkung) bimbingan dan konseling.

o Tahap-tahap Pelaksanaan Program Satuan Kegiatan

Pelaksanaan program satuan kegiatan yaitu kegiatan layanan dan kegiatan pendukung merupakan ujung tombak kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan.

Tahap-tahap yang perlu di tempuh adalah :

Tahap perencanaan, program satuan layanan dan kegiatan pendukung direncanakan secara tertulis dengan memuat sasaran, tujuan, materi, metode, waktu, tempat dan rencana penilaian.
Tahap pelaksanaan, program tertulis satuan kegiatan (layanan atau pendukung) dilaksanakan sesuai dengan perencanaannya.
Tahap penilaian, hasil kegiatan diukur dengan nilai.
Tahap analisis hasil, hasil penilaian dianalisis untuk mengetahui aspekaspek yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Tahap tindak lanjut, hasil kegiatan ditindaklanjuti berdasarkan hasil analisis yang dilakukan sebelumnya, melalui layanan dan atau kegiatan pendukung yang relevan.

Kegiatan Bimbingan dan Konseling Di Sekolah

Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ketentuan yang dikutip pada awal ini, kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah terutama dibebankan kepada Guru Pembimbing di SMP/SMA/MA, dan kepada Guru Kelas (di SD).Untuk dapat mengemban dan mengembangkan pelayanan bimbingan dan konseling dengan pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, asas, jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta jenis-jenis program sebagaimana dikemukakan di atas, diperlukan tenaga yang benar-benar berkemampuan, baik ditinjau dari personalitasnya maupun profesionalitasnya

1. Modal Personal

Modal dasar yang akan menjamin suksesnya penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah berupa karakter personal yang ada dan dimiliki oleh tenaga penyelenggara bimbingan dan konseling. Modal personal tersebut adalah :

erwawasan luas, memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, terutama tentang perkembangan peserta didik pada usia sekoahnya, perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi/kesenian dan proses pembelajarannya, serta pengaruh lingkungan dan modernisasi terhadap peserta didik.
Menyayangi anak, memiliki kasih sayang terhadap peserta didik, rasa kasih sayang ini ditampilkan oleh Guru Pembimbing/Guru Kelas benar-benar dari hati sanubarinya (tidak berpura-pura atu dibuat-buat) sehingga peserta didik secara langsung merasakan kasih sayang itu.
Sabar dan bijaksana, tidak mudah marah dan atau mengambil tindakan keras dan emosional yang merugikan peserta didik serta tidak sesuai dengan kepentingan perkembangan mereka, segala tindakan yang diambil Guru Pembimbing/Guru Kelas didasarkan pada pertimbangan yang matang
Lembut dan baik hati, tutur kata dan tindakan Guru Pembimbing/ Guru Kelas selalu mengenakkan hati, hangat dan suka menolong.
Tekun dan teliti, Guru Pembimbing/Guru Kelas setia menemani tingkah laku dan perkembangan peserta didik sehari-hari dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan berbagai aspek yang menyertai tingkah laku dan perkembangan tersebut.
Menjadi contoh, tingkah laku, pemikiran , pendapat dan ucapanucapan Guru Pembimbing/Guru Kelas tidak tercela dan mampu menarik peserta didik untuk mengikutinya dengan senang hati dan suka rela.
Tanggap dan mampu mengambil tindakan, Guru Pembimbing/Guru Kelas cepat memberikan perhatian terhadapa apa yang terjadi dan atau mungkin terjadi pada diri peserta didik, serta mengambil tindakan secara tepat untuk mengatasi dan atau mengantisipasi apa yang terjadi dan mungkin apa yang terjadi itu.
Memahami dan bersikarp positif terhadap pelayanan bimbingan dan konseling, Guru Pembimbing/Guru Kelas memahami tujuan serta seluk beluk layanan bimbingan dan konseling dan dengan bersenang hati berusaha sekuat tenaga melaksanakannya secara professional sesuai dengan kepantingan dan perkembangan peserta didik.

2. Modal Profesional

Modal professional mencakup kemantapan wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap dalam bidang kajian pelayanan bimbingan dan konseling. Semuanya itu dapat diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan khusus dalam program pendidikan bimbingan dan konseling. Dengan modal professional itu, seorang tenaga pembimbing (Guru Pembimbing dan Guru Kelas) akan mampu secara nyata melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling menurut kaidah-kaidah keilmuannya, teknologinya dan kode etik profesionalnya. Apabila modal personal dan modal profesional tersebut dikembangkan dan dipadukan dalam diri Guru Pembimbing dan Guru Kelas serta diaplikasikan dalam wujud nyata terhadap peserta didik yaitu dalam bentuk kegiatan dan layanan pendukung bimbingan dan konseling, dapat diyakni pelayanan bimbingan dan konseling akan berjalan dengan lancar dan sukses.

3. Modal Instrumental

Pihak sekolah atau satuan pendidikan perlu menunjang perwujudan kegiatan Guru Pembimbing dan Guru Kelas itu dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang merupakan modal instrumental bagi suksesnya bimbingan dan konseling, seperti ruangan yang memadai, perlengkapan kerja sehari-hari, instrument BK dan sarana pendukung lainnya. Dengan kelengkapan instrumental seperti itu kegiatan bimbingan dan konseling akan memperlancar dalam keberhasilannya akan lebih dimungkinkan. Disamping itu, suasana profesional pengembangan peserta didik secara menyeluruh perlu dikembangkan oleh seluruh personil sekolah. Suasana profesional ini, selain mempersyaratkan teraktualisasinya ketiga jenis modal tersebut, terlebih-lebih lagi adalah terwujudnya saling pengertian, kerjasama dan saling membesarkan diantara seluruh personil sekolah.

Bab III

Penutup

1. Kesimpulan

Tujuan pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh pandangan umum; demi mutu keberhasilanakademis seperti persentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, atau persentase kelanjutan ke perguruan tinggi negeri. Kenyataan ini sulit dimungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulum menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah umum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau penyiapan peserta didik (sekolah menengah kejuruan/SMK) agar sanggup memasuki dunia kerja.

Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi akan melulu memperhatikan sisi materi pelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Betapa pembentukan pribadi, pendampingan pribadi, pengasahan nilai-nilai kehidupan (values) dan pemeliharaan kepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi demikian diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran konselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi sekadar sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yang sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di banyak sekolah.

Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai “musuh” bagi siswa bermasalah atau nakal. merujuk pada rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam beberapa hal. Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup. Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung oleh mekanisme struktural di suatu sekolah.

Daftar Pustaka

Ridwan.1998. Penanganan Efektif Bimbingan dan konseling disekolah. Yogyakarta:Pustaka Pelajar Offset
Mu’awanah , Elfi. 2009. Bimbingan Konseling Islam. Jakarta:Bumi Aksara.
Eko. Hakikat bimbingan dan konseling. 2008.[tersedia] http://eko13.wordpress.com%5Bonline%5D tgl 1 mei 2011
Ade Sanjaya. Pengertian Bimbingan konseling, 2011 [tersedia]

Konseling Islami


Bimbingan Konseling Islam

A. Bimbingan dan Konseling Islami
1. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islami
Pengertian bimbingan dan konseling Islam menurut M Arifin (dalam Abied : 2009) adalah “Kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan-kesulitan rohaniah dalam lingkungan hidupnya agar orang tersebut mampu mengatasinya sendiri karena timbul kesadaran atau penyerahan diri terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga timbul pada diri pribadinya suatu cahaya harapan kebahagian hidup saat sekarang dan dimasa yang akan datang”.
Anwar Sutoyo (2007 : 24-25) menyebutkan bahwa layanan bimbingan dan konseling islami adalah “Upaya membantu individu belajar mengembangkan fitrah dan atau kembali kepada fitrah dengan cara memberdayakan (empowering) iman, akal, dan kemauan yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya untuk mempelajari tuntunan Allah dan Rasulnya, agar fitrah yang ada pada individu berkembang dengan benar dan kokoh sesuai dengan tuntunan Allah SWT”.
Faqih (dalam Mizan : 2011) berpendapat “konseling Islami adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya dalam kehidupan keagamaannya senantiasa selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat”.
Bertolak dari pendapat diatas dapat ditarik pengertian bahwa bimbingan dan konseling Islam adalah suatu usaha pemberian bantuan kepada individu yang mengalami kesulitan rohaniah baik mental dan spiritual agar yang bersangkutan mampu mengatasinya dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri melalui dorongan dari kekuatan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT, atau dengan kata lain bimbingan dan konseling Islam ditujukan kepada seseorang yang mengalami kesulitan, baik kesuliatan lahiriah maupun batiniah yang menyangkut kehidupannya di masa kini dan masa datang agar tercapai kemampuan untuk memahami dirinya, kemampuan untuk mengarahkan dan merealisasikan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
2. Dasar-dasar Bimbingan Konseling Islam
Al-Qur’an dan sunnah rasul adalah landasan ideal dan konseptual bimbingan konseling Islam. Dari kedua dasar tersebut gagasan, tujuan dan konsep-konsep bimbingan konseling Islam bersumber. Segala usaha atau perbuatan yang dilkukan manusia selalu membutuhkan adanya dasar sebagai pijakan untuk melangkah pada suatu tujuan, yakni agar orang tersebut berjalan baik dan terarah. Begitu juga dalam melaksanakan bimbingan Islam didasarkan pada petunjuk Al-Qur’an dan Hadits, baik yang mengenai ajaran memerintah atau memberi isyarat agar memberi bimbingan dan petunjuk. Continue reading

JURNAL ILMU PENDIDIKAN


Nomor 1, Maret 2006 ISSN 1693 – 2463

Penerbit
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung
Jurnal Ilmu p endidikan dan Pembelajaran Volume 4 Nomor 1 Halaman 1 – 100 Bandar Lampung, Maret 2006 ISSN 1693 – 2463

JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006, ISSN 1693 – 2463
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Terakreditasi “C” berdasarkan keputusan dirjen dikti depdiknas
Nomor: 26/DIKTI/KEP/2005, tanggal 30 Mei 2005

SUSUNAN DEWAN PENYUNTING

Penanggung Jawab
Bujang Rahman

Ketua penyunting
A.B. Setiyadi

Dewan Penyunting
Patuan Raja, Basrowi, N.E Rusmianto,
Sowiyah, Siti Samhati

Penyunting Ahli (Mitra Bastari)
Ali Saukah (Universitas Malang)
Salam (Universitas Negeri Makasar)
Dyah Arulilina (Universitas Bengkulu)
Udin Syrifudin (Universitas Terbuka)
La Marota Galib (Universitas Halu Oleo)
Junaidi Mistar (Universitas Islam Malang)
Koesdwirarti Setono (Universitas Pajajaran)
Gunarjo s. Budi (Universitas Palangkaraya)
Joko Nurkamto (Universitas Negeri Surakarta)
Ari Widodo (Universitas Pendidikan Indonesia)
Yusuf Hadmiarso (Universitas Negeri Jakarta)
Suharismi Arikunto (Universitas Negeri Yogyakarta)

PENYUNTING TEKNIK
C. Ertikanto, M Widodo, Amrullah
Tata Usaha
Anwar, Zainuddin

Alamat
Sekertariat Dekan Gedung A FKIP Universitas Lampung
jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung 35145
Tlp : (0721) 704624, Fax : (0721) 709493, email : jppfkip@unila.ac.id

Jurnal pendidikan dan pembelajaran terbit pertama kali April 2003,
jurnal diterbitkan dua kali setahun pada bulan maret dan september,
Dewan Penyunting menerima naskah hasil penelitian bidang pendidikan
dan pembelajaran yang telah diringkas, untuk dipertimbangkan pemuatannya

JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN
DAN KONSELING D1 SEKOLAH
IDENTIFICATION OF NEEDS IN THE DEVELOPING OF SCHOOL GUIDANCE
AND COUNSELING PROGRAM

Oleh
Giyono
Staf Pengajar pada Jurusan limo Pendidikan FKiP Unila
Diterima 16 Januari 2006/disetujui 22 Pebruari 2006
Abstract: The purposes of this research are (1) Identification of needs in guidance and counseling service program, and (2) Guidance and counseling service program that fulfill student needs. The method used to collect data was questionnaire and the data analysis was carried out descriptively. The subjects were 300 students of Tunas Harapan Senior High School. The research finds three needs of students in general. They are (1) guidance service connected to learning program, (2) guidance service connected to personal problems, and (3) guidance service connected to future career It is suggested that (1) Headmaster should provide facilities and observation on the implementation of guidance and counseling service, (2) Counselor/Consultant teachers should implement guidance and counseling service based on the real needs of students, and (3) Classroom teachers should be invoived in the socialization of guidance and counseling service program in the daily process of teaching.
Key words: need identification, guidance and counseling program development
PENDAHULUAN
Pendidikan sebagai langkah strategy dalam mempersiapkan somber daya fnarusla (SDM) berkualitas (Nurcholis dalam India D)a”], 2003 xi) dan pendidikan tidak hanya ter batas pada pengajaran Pendidikan melibatkan banyak hal dan rnencakup kesehiruhan tingkah laku manusia yang cl;lak.uRar urtuk mernperoleh kesinarnhungan pertahanan dan peningkatan hidup Pendidikan sebagai usaha sengaja sistemik, taros menerus untuk mentransfer clan ryiengernbangkoin pengetahuan, sikap, nilai keterampilan RE anyak pihak menyoroti kualitas pendidikan kita menurun perbedaan kualitas pendidikan di pe¬desaan dengan pendidikan di perkotaan (A.rdhana, 1992 7) Hai ini hares ditanggapi dan direspon secara series, banyak pihak masih menganggap pendidikan: bukan mer.!pakan salah sate faktor terpuruknya bangsa kita Sehingga banyak pergamat khususnya politikus hanya mengarahkan pemikirannya pada ekonomi dan pohtlk Pendidikan Sama sekali kurang mendapat perhatian, realitas menunjukkan kapasitas clan wawasan bangsa ini masih belum berpikir jauh ke depan Sehingga hasil pendidikan di negeri ini bcium memperoleh hasil maksimal, maka sudah saatnya pendidikan bukan lags dipandang se-bagai masalah bagi lembaga penyelenggara pendidikan saja tetapi pendidikan merupa¬kan suatu masalah nasional secara keseluruhan.

76, JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100
Pendidikan mass depan dengan paradigms barn dari teaching to learning (Indra Djati, 2003: 21) dan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan formal tidak lagi hanya me¬ngembangkan dan mengelola dua jenis kecerdasan saja, yaitu kecerdasan linguistik dan kecerdasan logis matematik. Bagi Sekolah mengembangkan kecerdasan emosional sudah merupakan suatu keharusan. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional antara lain adalah mengembangkan kepribadian yang utuh. Kepribadian yang utuh memiliki makna bahwa system operasional pendidikan di sekolah-sekolah bertujuan mengembangkan berbagai aspek, yaitu (1) perkembangan kecerdasan emosional (EQ), (2) perkembangan kecerdasan Intelectual (10), dan (3) perkembangan kecerdasan speritual (SP). Menurut Goldman (1992: 616-621) Intelectual questions (IQ) hanya mem¬berikan konstribusi 20 % dalam mencapai kesuksesan seseorang. Awal abad XXI pars pembuat kebijakan, perencana dan administrator kependidikan sudah selayaknya ber¬pikir bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah suatu keharusan untuk me¬lakukan lompatan dari level pembelajaran kelas ke tingkat organisasi sekolah. Untuk mencapai itu, kits hares berpedoman pads sistem operasional pendidikan di sekolah yang terdiri dari tiga bidang yang merupakan satu kesatuan yang integral. Dalam re¬formasi pendidikan system tersebut masih dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia (Surya, 2000:1-15). Peranan bimbingan dan konseling di sekolah cukup besar dalam pencapaian sasaran pendidikan sesuai berbagai dimensi pendidikan, maka pengernbangan layanan bimbingan dan konseling di sekolah didorong masuk ke dalarr, pola 17 1, Pray itno 2000 28-50)
Layanan bimbingan dan konseling dapat berhasil maksimal, perlu dilakukan perencanaan berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi sekolah. Perencanaan kegiat¬an akan dijadikan program layanan dan program layanan bimbingan konseling merupa¬kan bagian integral dan program sekolah Realita di lapangan layanan bimbingan dan konseling di nomer cluakan (kurang mendapat perhatian). Menurunnya kualitas pen¬didikan diakLP atau tidak diakw salah satu penyebabnya adalah kurang maksimalnya layanan bimbingan dan konseling Hal in, disebabkan salah satunya oleh guru pem¬bimbing yang kurang proakfif dalam melaksanakan tugasnya. Guru pembimbing dalam merencanakan program layanan kurang memperhat!kan kebutuhan-kebutuhan siswa

Siswa datang ke sekolah dengan berbagai kebutuhan, seperti halnya kebutuhan akan peningkatan pengetahuan dan keterampilan, kebutuhan penyesuaian diri, dan kebutuhan akan pemahaman tentang dunia kerja. Kebanyakan siswa hdak termotivasi, depresi/ frustasi dan bahkan menjadi pribadi tidak sehat. Hal ini disebabkan mereka tidak me¬nemukan kebutuhannya (Goldman, 1978: 122 ). Maka perlu diupayakan layanan bim¬bingan dan konseling dapat membantu pengembangan pendidikan sesuai dengan per¬kembangan yang terjadi dalam masyarakat (Heppner dan Johnstone, 1984: 451-453). Usaha tersebut dituangkan dalam program layanan, di sekolah layanan bimbingan dan konseling (BK) di bagi dalam empat bidang layanan (1) layanan pribadi, (2) layanan social. (3) layanan belajar, dan (4) layanan karir (Obe dan Ogionwo dalam Ahia dan F’— Ilr~ 1984 155 Prayitno. 1994 261) Agar jangkauan layanan program BK dapat.

IDENTIFIKASI Kebutuhan Pengembangan….(Giyono) 77
mencapai sasaran lebih lugs, program hendaknya memiliki empat komponen pokok, yaitu (1) kurikulum bimbingan, (2) layanan individual, (3) layanan responsive, clan (4) layanan pendukung system (Gysbers, at, al. 1992: 566). Tahapan Penyusunan program layanan BK melalui empat tahap (1) tahap perencanaan, (2) tahap penyusunan, (3) tahap pe¬laksanaan, clan (4) tahap evaluasi (Gysber’s clan Henderson, 1988: 94)
Berdasarkan berbagai uraian di atas maka untuk menyusun suatu program yang dapat memenuhi kebutuhan, maka sebelumnya perlu diidentifikasi kebutuhan-kebutuhan siswa sehingga siswa akan termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa akan memiliki paradigma belajar sendiri, memotivasi dirinya sendiri (Kartadinata, 2001: 3-17). Apabila kebutuhannya dapat terpenuhi dari layanan BK yang diberikan. Hal ini yang menarik peneliti untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan siswa dalam menyusun program layanan BKdi sekolah menengah umum di Bandarlampung.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian survey yang diclasarkan pads model needs assessment (Pietrofessa, 1980: 98) yaitu mengidentifikasi kebutuhan siswa berclasarkan panting clan tidak pentingnya dalam program layanan bimbingan clan konseling. Responder dalam penelitian adalah semua siswa SMU Tunas Harapan kelas dua clan tiga. Instrumen pe ngumpulan data digunakan angket yang dikembangkan berclasar kajian teori kebutuhan clan teori bimbingan clan konseling, analisis data digunakan deskriptif analitik.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa progran layanan bimbingan di sekolah yang di¬butuhkan oleh siswa SMU Tunas harapan mencakup tiga hal, secara ringkas dapat lihat Tabel 1 yaitu sebagai berflkut
Tabel 1 Kebutuhan Peserta Didik akan Layanan Bimbingan
No Bidang Aspek Prosentase
1 Layanan Belajar Secara Umum 51 – 91%
a. Pemanfaatan kesempatan belajar 91 %
b. Menemukan cars belajar efektif 90%
c. Pengawasan 83%
2 Layanan Pribadi Secara Umum 53 – 95%
a. Pemahaman dan penerimaan diri
b. Pemahaman dan penerimaan 93%
lingkungan 90%
c.PengembanTan rasa tanggungjawab 95%

78 JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100

No Bidang Aspek Prosentase
3 Layanan Karir Secara Umum 55 — 92%
a. Layanan Informasi Karir 91%
b. Perencanaan karir 79%
c. Membuat akeputusan karir 84%

Pembahasan
Berdasar Tabel 1 dapat dibahas secara lebih mendalam bahwa terdapat tiga bebutuhan layanan yang diperlukan oleh peserta didik yaitu (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan pribadi, dan (3) bimbingan karir.
Pertama berkaitan dengan layanan bimbingan belajar secara umum sebagian besar siswa (53%-91 %) menyatakan sangat dibutuhkan. Bidang layanan belajar ini diuraikan sebagai berikut; (a) pemanfaatan kesempatan belajar (learning opportunities) me¬liputi: sarana dan prasarana layanan bimbingan dan konseling yang memadai sebagian besar (91%) menyatakan sangat diperlukan, informasi mengenai peranan dan fungsi bimbingan dan konseling di sekolah 82% siswa menyatakan sangat diperlukan, ke¬sempatan mengembangkan kreativitas baik secara perorangan maupun secara kelompok 77%, penjelasan mengenai struktur organisasi layanan bimbingan dan konseling di sekolah sebanyak 63% siswa menyatakan sangat perlu, begitu jugs informasi mengenai kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan belajar kelompok/bimbingan kelompok sebanyak 55 % dari seluruh siswa menyatakan sangat dibutuhkan. (b) menemukan cara belajar effektif (effective learning) dalam hal ini sebagian besar siswa (90%) membutuhkan bimbingan tarn belajar secara effektif.penjelasan cara penggunaan alai-alai laboratorium sangat diperlukan sebanyak 73%, sebanyak 70% siswa sangat membutuhkan penjelasan mengenai kurikulum, dan sebanyak 58% siswa menginginkan perlunya penjelasan me¬ngenai penggunaan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah dalam upaya guns meningkatkan belajar lebih efektif. (c) pengawasan (supervision), dalam hal pengawasan sebagian besar (83%) siswa menyatakan petugas layanan bimbingan dan konseling diperlukan tenaga professional. sangat diperlukan keiklasan dan keseriusan dalam membimbing siswa baik pada waktu di kelas maupun di luar kelas sebanyak 83%. sedang 82% siswa menyatakan bahwa sangat diperlukan adanya pengawasan secara intensif bagi seluruh siswa pada saat belajar di dalam kelas maupun pada waktu istirahat, dan sebagian besar (76%) siswa membutuhkan adanya kesamaan pendapat (adanya satu bahasa) dalam menginformasikan sesuatu hal kepada siswa oleh guru dan guru pembimbing Berta kepala sekolah.

Berdasar hasil identifikasi mengenai kebutuhan dalam bidang bimbingan belajar siswa radar bahwa dirinya banyak membutuhkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dirinya dalam memanfaatkan waktunya untuk belajar dan memperoleh hasil yang optimal. Banyak terjadi di sekolah program layanan bimbingan berdasarkan keinginan pembim¬bmg sehingga Bering terjadi siswa mengalami kebingungan dan siswa takut datang kepada pembimbing Ketakutan yang dialami siswa bukan karena pembimbingnya tidak

Identifikasi Kebutuhan Pengembangan….(Giyono) 79

menyenangkan, tetapi karena layanan yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhaan para siswa. Hal itu terjadi sebab kurang adanya informasi mengenai peranan dan fungsi lembaga bimbingan konseling di sekolah. Dalam penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya betul-betul disesuaikan dengan kebutuhan perkembang¬an siswa. Pembimbing semestinya menyadari bahwa para siswa sudah mengarah dalam belajar sesuai dengan paradigmanya sendiri, karena adanya pergeseran dalam kultur kehidupan yang lebih banyak mencurahkan waktu untuk belajar demi kepentingan mass depannya. Maka pembimbing hendaknya banyak mencurahkan waktunya untuk meng¬ubah orientasi kerja menjadi orientasi layanan yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, tetapi tergantung kepada kebutuhan layanan yang didasarkan pada kebutuhan siswa (Kartadinata, 2001: 3-17)
Hasil identifikasi di atas siswa jugs merasakan perlunya penanganan layanan bimbingan dan konseling di sekolah ditangani oleh tenaga professional. ini muncul banyak disebabkan oleh pengalaman siswa selama di SMU memperoleh peiayanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, ternyata masih banyaknya guru-guru pembimbing yang tidak memiliki latar pendidikan bimbingan dan konseling Berkenaan dengan layanan bimbing¬an konseling yang kurang memperhatikan kebutuhan siswa, maka siswa mengalami tiga jenis kesulitan yaitu (1) kemampuan belajar (learning capability) yang lemah, (2) kesulitan dalam mengenali kesempatan kerja (employement opportunities) atau kesempatan be¬lajar lebih lanjut, sesuai dengan kemampuan dan minat mereka. dan (3) kebingungan dalam menghadapi situasi yang serba kacau dalam masyarakat (Bochcri, 2001 18-29)

Kedua, berkaitan dengan layanan bimbingan pribadi, secara umum siswa memberikan respon terhadap butir layanan bimbingan kepribadian 53% – 93% berada pada kategon tinggi. Hal ini mengandung makna bahwa sebagian besar siswa memandang layanan bimbingan pribadi seorang sangat dibutuhkan oleh siswa. Secara rinci dapat diurai se¬bagai berikut; (a) pada pemahaman dan penerimaan diri (self understanding and self acceptance) dalam kategori tinggi yaitu 93% siswa memerlukan pemahaman terhadap minat, bakat, dan kemampuan dirinya dan 79% membutuhkan pemahaman mengenai sifat-sifat pribadi, 72% membutuhkan bimbingan pengendalian diri dan emosional (b) pemahaman dan penerimaan lingkungan (getting along wiht other’s) sebanyak 90% siswa membutuhkan pemahaman orang tua terhadap program pendidikan di SMU. sebanyak 89% memerlukan kesempatan menjalin persahabatan dengan sekolah lain, ban sebanyak 79% membutuhkan pemahaman bagaimana menemukan cara me-7ingkatkan perasaan akrab dengan Leman, guru, dan karyawan.
sebanyak 65% memerlukan dorongan keberanian bertanya balk dalam kelas maupun di -ar sekolah, serta memerlukan tempat dan kesempatan berteman dengan Leman-Leman 13n kafetaria yang memadai sebanyak 53%.Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan, – 3da dasarnya sesuai dengan konsep school based management / manajemen berbasis sekolah(MBS) di mans kepala sekolah dalam mengembangkan program-prograill ke¬-ndidikan secara menyeluruh untuk melayani segala kebutuhan siswa ke sekolah (Malik :’=,ar, dalam lbtisam Abu-Duhou, 2003: viii-xxiii). Semua sekolah termasuk guru pem¬: —bing dalam merumuskan yang lebih operasional, karena mereka yang paling

78 JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100
mengetahui akan kebutuhan siswanya. Berkenaan dengan MBS ini sesuai dengan fungsi layanan bimbingan dan konseling adalah membantu memahami diri dan dunianya serta lingkungannya (Shertzer & Stone, 1981: 112). Pemahaman terhadap minat dan bakat serta kemampuan diri sangat dibutuhkan oleh siswa, pads awal abad XXI layanan bimbingan dan konseling sudah seharusnya menekankan pads fungsi pelayanan pe-mahaman, pencegahan dan fungsi pengembangan (Kartadinata, 2001: 3-17). Siswa setelah memahami diri diharapkan dapat menerima dirinya dan selanjutnya dapat me¬ngarahkan dirinya dan pads akhirnya mampu mengembangkan dirinya secara optimal.
Pengendalian emosi ternyata merupakan kebutuhan siswa, hal ini berarti ada kesadaran pads diri siswa sebagai usia remaja yang memiliki ciri mudah tersinggung dan menge-tengahkan emosi dirasakan sebagai perilaku yang kurang baik. Sekolah sering melupa¬kan bahwa para siswa memiliki kebutuhan sarana untuk menjalin hubungan dengan se¬sama teman, dengan guru, dengan staf dan ternyata kafetaria bukan sekedar untuk membeli makanan, tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai tempat untuk sosialisasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah. ( c) pengembangan rasa tanggungjawab (responsibilities), aspek ini tersebar pads kebutuhan akan bea siswa dan jenis bantuan lain serta cars mendapatkan sebanyak 95%, dan 84% membutuhkan motivasi belajar lebih baik, serta kebutuhan layanan bimbingan memperoleh harga diri sebanyak 81%. Disamping itu sebanyak 76% menyatakan pengelolaan hasil ujian diolah oleh orang-orang yang professional, dan siswa menyatakan dalam program perawatan sarana prasarana belajar sebanyak 68% perlu melibatkan siswa, dan masih ada yang menyatakan perlunya layanan informasi / penjelasan mengenai tata tertib, hak, dan kewajiban sebagai siswa. Dalam diri siswa ternyata merasa bertanggungjawab dalam merawat sarana dan prasarana belajar, namun selama ini dalam program layanan bimbingan tidak pernah melibatkan para siswa. Disadari atau tidak disadari justru siswa sangat urgen dalam program layanan bimingan, karena secara realita apabila ada ke¬rusakan fasilitas belajar yang selalu disalahkan dan dikalahkan oleh guru adalah siswa (Rake Joni, 1988).
Dengan teridentifikasi kebutuhan siswa dalam pengawasan akan lebih efektif apabila program layanan benar-benar mendasarkan pads kebutuhan para siswa, maka layanan bimbingan konseling di sekolah akan dapat membantu siswa sesuai dengan perkem¬bangannya, sehingga siswa dapat berkembang secara optimal. Siswa sebagai manusia memiliki kebutuhan akan harga diri, aspek ini muncul sebagai kebutuhan yang dinyata¬kan oleh para siswa didorong oleh perlakuan yang sering muncul siswa kurang dihargai sebagai manusia, tetapi sebagai siswa yang kedudukan sebagai obyek. Siswa sangat membutuhkan motivasi belajar yang lebih baik, hal ini sewajarnya direspon oleh sekolah khususnya pads layanan bimbingan dan konseling. Motivasi merupakan suatu dorongan pads diri seseorang melakukan sesuatu, orang yang memiliki needs achievement yang tinggi maka akan memperoleh hasil yang optimal, termasuk dalam belajar. Hasil belajar yang dinilai oleh orang-orang sesuai dengan profesinya akan menjadi motivasi bagi siswa, sebab hasilnya pasti dapat dipertanggungjawabkan. Siswa meskipun memperoleh hasil yang kurang memuaskan, namun siswa akan dapat menerima hasil tersebut de¬ngan rasa puas.
Identifikasi Kebutuhan Pengembangan….(Giyono) 79
Ketiga, kebutuhan untuk bimbingan karir. Berkenaan kebutuhan untuk layanan bimbing¬an karir secara umum dapat diidentifikasi dan dikeiompokkan menjadi tiga, (1) layanan informasi karir (career information service), (2) perencanaan karir (career planning), dan (3) membuat keputusan ktirir (career decicion making). Ke tiga hal ini termasuk kebutuh¬an tingkat tinggi (55% – 91%). Secara rinci dapat diurai sebagai berikut; (1) layanan in¬formasi karir pads kategori tinggi adalah (a) informasi mengenai pendidikan lanjutan 91%, (b) informasi mengenai perkembangan kebutuhan tenaga kerja mencapai 84%,
(c) informasi mengenai arch ketenagaan kerja yang dikembangkan sebanyak 79%,
(d) sebanyak 55% membutuhkan informasi mengenai upaya berwira usaha; (2) layan¬an yang menyangkut pads kelompok perencanaan kerja dalam kategori tinggi adalah (a) penjelasan mengenai tata cara melamar suatu pekerjaan dan persyaratan suatu jenis pekerjaan sebanyak 92%, (b) penjelasan cara menjalin hubungan balk dengan alumi yang sudah bekerja mencapai 91%, (c) sebanyak 90% membutuhkan kesempatan untuk karyawisata di tempat-tempat home industri, (d) sebanyak 59% siswa menyatakan perlu¬nya menjalin hubungan kerjasama dengan pihak-pihak perusahaan berkaitan dengan kelanjutan studi kesempatan bekerja; (3) layanan yang termasuk kelompok pengambil¬an keputusan dalam kategori tinggi adalah, (a) penjelasan cara menetapkan untuk me¬ngambil keputusan sebanyak 81%, (b) penjelasan cara memilih alternatif pilihan pe¬kerjaan sebanyak 80%, (c) cara mengembangkan rasa percaya din dalam memecah¬kan masalah 90%.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Ada tiga kebutuhan secara makro yang diharapkan oleh siswa dalam program layanan dan bimbingan di sekolah, yaitu (1) layanan bimbingan belajar (2) bimbingan pribadi, dan (3) bimbingan karir
Layanan bimbingan belajar mencakup (a) sarana prasarana !ayanar, bimbingan dan konseling yang memadai, (b) informasi mengenai perarian dan fungsi bimbingan dan konseling di sekolah, (c) kesempatan mengembangkan kreativitas balk secara pero¬rangan maupun secara kelompok (d) penjelasan mengenai struktur organisasi layanan bimbingan dan konseling di sekolah, (e) informasi mengenai kegiatan ekstra kunkuler dan kegiatan belajar kelompok/bimbingan kelompok (d) bimbingan cara belajar efektif, (e) informasi tentang kurikulu, (f) penjelasan peralatan laborat, (g) perlunya penjelasan mengenai penggunaan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah daiam upaya meningkatkan belajar yang lebih efektif. (h) perlunya petugas layanan bimbingan dan konseling yang professional, (i) diperlukan keiklasan dan keseriusan guru dalam membimbing siswa balk pads waktu di kelas maupun di luar, 0) pengawasan secara intensif bagi seiidruh siswa pads saat belajar di dalam kelas maupun pads waktu istirahat, dan sebagian besar, (k) perlunya adanya informasi yang sama yang disampaikan kepada siswa,
Layanan bimbingan pribadi mencakup (a) pemahaman dan penerimazin din termasuk kategori tinggi yaitu pemahaman terhadap minat, bakat, dan kemampuan dinnya dan

78 JPP, Volume 4 Nomor 1, Maret 2006,1-100
mengenai sifat pribadi, (b) bimbingan pengendalian diri dan emosional, (c) pemahaman dan penerimaan lingkungan, (d) pemahaman orang tua terhadap program pendidikan di SMU, (e) kesempatan menjalin persahabatan dengan sekolah lain, (f) pemahaman cara meningkatkan perasaan akrab’ dengan teman, guru, dan karyawan. (g) memerlukan dorongan keberanian bertanya baik, (h) memerlukan tempat dan kesempatan berteman dengan teman-teman dan kafetaria yang memadai, (i) kebutuhan akan bea siswa dan jenis bantuan lain serta cara mendapatkannya, 0) membutuhkan motivasi belajar lebih baik, (k) kebutuhan layanan bimbingan memperoleh harga diri, (1) perlunya pengelolaan basil ujian diolah oleh orang yang professional, (m) siswa menyatakan dalam program perawatan sarana prasarana belajar perlu melibatkan siswa dan perlunya layanan in¬formasi/penjelasan mengenai tata tertib, hak, dan kewajiban sebagai siswa.
Kebutuhan layanan untuk bimbingan karir. Berkenaan kebutuhan untuk layanan bimbingan karir secara umum dapat diidentifikasi dan dikelompok kan menjadi tiga, yaitu (1) layanan informasi karir (career information service), (2) perencanaan karir (career planning), dan (3) membuat keputusan karir (career decicion making). Ke tiga hal ini termasuk kebutuhan tingkat tinggi (1) layanan informasi karir pads kategori tinggi adalah (a) informasi mengenai pendidikan lanjutan, (b) informasi mengenai perkembangan ke¬butuhan tenaga kerja, (c) informasi mengenai arch ketenagaan kerja yang dikembangk¬an, (d) informasi mengenai upaya berwira usaha; (2) layanan yang menyangkut pads ke¬lompok perencanaan kerja dalam kategori tinggi adalah (a) penjelasan mengenai tata cara melamar suatu pekerjaan dan persyaratan suatu jenis pekerjaan, (b) penjelasan cara menjalin hubungan baik dengan alumi yang sudah bekerja, (c) informasi tentang kesempatan untuk karyawisata di tempat-tempat home industri, (d) perlunya menjalin hubungan kerjasama dengan pihak-pihak perusahaan berkaitan dengan kelanjutan studi dan kesempatan bekerja; (3) layanan yang termasuk kelompok pengambilan keputusan dalam kategori tinggi adalah, (a) penjelasan cara menetapkan untuk mengambil keputus¬an, (b) penjelasan cara memilih alternatif pilihan pekerjaan, (c) cara-cara mengembang¬kan rasa percaya din dalam memecahkan masalah .
Saran
Berdasar kesimpulan di atas maka dapat disarankan kepada beberapa pihak adalah sebagai berikut;
Kepala sekolah
a. Hendaknya memfasilitasi pengadaan sarana dan prasarana layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang dipimpinnya yang representatif.
b. Hendaknya melakukan pengawasan secara intensifterhadap penyusunan layanan program bimbingan dan konseling.
Guru Pembimbing
a. Hendaknya dalam menyusun program layanan bimbingan dan konseling benar-benar didasarkan pads kebutuhan siswa
b Hendaknya dalam program layanan bimbingan dan konseling melibatkan
berbagai pihak yang dapat memenuhi apa yang dibutuhkan oleh siswa.
Guru Matapelajaran
Hendaknya membantu mensosialisaikan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah kepada pars siswanya

DAFTAR RUJUKAN.
Aiha, C.A. dan Bradley, R. W 1984. Assessment of secondary school student needs in Kwara State Nigeria International-, Journal For The Advancement of Counseling. (7); 149-157.
Ardhana, W 1992. Sistem pendidikan nasional: Realisasi permasalahan dan pemecahannya, Makalah dalam Konvensi Nasional Pendidikan I11cli Ujung Pandang, 4 7 Maret.
Buchori, M. 2001. Dari Guidance dan Counseling ke Bimbingan dan Penyuluhan Pendidikan, Jurnal Bimbingan dan Konseling, Volume IV No 7 Mei. Bandung: Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN).
Goldman, L. 1978. Research methods for counselor. New York: John Wiley and Son, Inc.
Goldman, L. 1992 Qualitative Assessment: An approach for counselor. Journal of Counseling and Development, May-June (70): 616-621.
Grsbers, N. C., Hughey, K. F , Starr, M. Lapan, R. T 1992. Improving School Guidance Program, A. frame work for program, personnel, and result evaluation Journal of Counseling and Development, May June (70) 565 – 570.
Gysbers, N , C. & Henderson P 1988 Development and managing your school guidance program, Virginia AACD
Heppner, P. P, & Johnstone, J A 1984 New Horison in Counseling, faculty Development, Journal of Counseling and Development, May June, (72) 451 – 453.
India Djati. 2003. Menuju masyarakat belajar- Menggagas paradigms barn pendidikan Jakarta: Paramadina.
Kartadinata, S. 2001. Reaktualisasi Paradigma Bimbingan dan Konseling dan Profesionalisasi Konselor, Jumal Bimbingan dan Konseling, Volume IV No 7 Mei, Bandung: Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) 3-17.
Malik Fajar dalam lbtisam Abu-Duhou. 2003 School Based Management, Jakarta. PT Logos Wacana Ilmu.
Nurcholis, M dalam India Djati. 2003. Menuju Masyarakat Belajar.-Menggagas Paradigma
Baru Pendidikan. Jakarta- Kerjasama Paramadina dengan Logos \Abcana Ilmu.

Parayitno. 2000 Bimbingan dan konseling penegak dirnensi-dimensi pendidikan, IPBI, Suara Perribirribing. No 5 Th III Januari-Juni, 28-50.
Pietrofessa, J. J., Bernstein, B!, Minor, J. A & Stanford, S 1980. Guidance introduction. Chicago: Rand Mc Nally Collage Publising Comp.
Rake Joni. 1998. Beberapa permasalahan dalam penilaian prestasi belajar, Malang: Kuliah umum, pasca sarjana IKIP Malang. tidak diterbitkan.
Shertzer, B., & Stone, B. C., 1981. Fundamentals of Guidance. Boston: Hougton Mifflin Company.
Surya, M. 2000. Tres konseling dalam era refcrmasi pendidikan IPBI, Suara

Strategi Pemecahan masalah


Pengertian

Masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Atau dapat dikatan sebagai suatu kesenjangan yang terjadi antara kondisi ideal yang didambakan dengan kenyataan yang tengah dijalani. Masalah akan muncul bila mana keinginan suatu indvidu tidak mampu ia penuhi karna berbagai kondisi dan keterbatasan yang ia miliki

Kategorisasi maslah

• Masalah individu -masalah kelompok
• Masalah obyektif -masalah subyektif
• Masalah kecil – masalah besar
• Masalah jangka pendek(taktis) – masalah jangka panjang(strategis)

Strategi pemecahan maslah

• Identifikasi masalah
• Koleksi alternatif solusi
• Memilih alternatif solusi
• Planning/Skenario
• Aksi
• Evaluasi

Kiat – kiat menghadapi masalah

Siap

Harus tetap berfikir bahwa masalah dapat dihadapi dan diselesaikan bukan untuk dihindari menjadi hal yang berlarut – larut.

Pendekatan pada tuhan/Ridho

Saat kita mendapatkan masalah jadikanlah waktu tersebut sebagai waktu yang paling tepat untuk mendekatkan diri pada Ilahi.

Sederhanakan

Meski kita sedang mengalami masalah namun hendaklah kita tetap berfikir praktis atau membuat masalah tersebut menjadi hal yang ringan

Evaluasi atau introspeksi

Menelaah lebih lanjut dan bisa mengambil hikmah dari setiap masalah yang tengah atau telah dihapai. Dengan harapan agar bisa dujadikan sebagai pelajaran berhaga sehingga kita dapat berbuat lebih arif dan bijak.

Layanan Informasi Dalam Bimbingan Konseling


Layanan Informasi

Dalam Bimbingan Konseling

Oleh

M.Wahid Nurrohman 0713052034

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2010

A. Pendahuluan

Upaya sistemik dalam mengantarkan individu peserta didik menjadi manusia seutuhnya mencakup berbagai komponen. Peserta didik sebagai raw input dalam menuju perkembangannya secara optimal sebagai out came mengalami berbagai prosesi. Pada pendidikan disekolah sekurang-kurangnya meliputi proses pelayanan pengembangan pribadi dan kesejahteraan peserta didik, pelayanan pengajaran dan pelayanan administratif. Ada juga pelayanan Bimbingan dan Konseling.

Pelayanan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan dari manusia untuk manusia dan oleh manusia (Prayitno, 1994). Proses Bimbingan dan Konseling seperti itu melibatkan manusia dan kemanusiaan sebagai totalitas yang menyangkut potensi-potensi dan kecenderungan-kecenderungannya, perkembangannya dinamika kehidupannya, permasalahan-permasalahannya dan interaksi dinamis antar berbagai unsur yang ada. Maka untuk dapat tercapainya pelayanan Bimbingan dan Konseling dibutuhkan pemahaman terkait pelayanan-pelayanan yang ada dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling. Pelayanan Bimbingan dan Konseling diselenggarakan terhadap sasaran layanan baik secara individu maupun kelompok. Dalam hal ini, penyusun mencoba menggali terkait pelayanan informasi yang termasuk juga dalam layanan Bimbingan dan Konseling.

B. Pembahasan

Berbagai jenis layanan dan kegiatan perlu dilakukan sebagai wujud penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konsleing terhadap sasaran layanan, yaitu peserta didik. Jenis layanan dan kegiatan tersebut perlu terselenggara sesuai dengan keempat bidang bimbingan yaitu :

1. Layanan orientasi

2. Layanan Informasi

3. Layanan Penempatan dan penyaluran

4. Layanan Bimbingan Belajar

5. Layanan Konseling perseorangan

6. Layanan Bimbingan Kelompk

7. Layanan Konsleing Kelompok

Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai penilaian layanan informasi BK. Layanan informasi adalah layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orangtua) menerima dan memahami informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebgaai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan sehari-hari sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat.

C. Layanan Informasi

• Pengertian

Layanan informasi yaitu : layanan Bimbingan dan Konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien). Klien tidak hanya peserta didik tetapi bisa juga orang tua atau wali.

• Tujuan dan Fungsi layanan Informasi

Layanan informasi bertujuan untuk membekali individu dengan berbagi pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan, dan mengembagkan pola kehodupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. Pemahaman yang diperoleh melalui layanan informasi, digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kegiatan dan prestasi belajar, mengembangkan cita-cita, menyelenggarakan kehidupan sehari-hari dalam mengambil sebuah keputusan.

• Materi umum Layana informasi

Materi yang dapat yang diangkat melalui layanan informasi ada berbagiai macam, yaitu meliputi :

1. Informasi pengembangan pribadi

Meliputi kegiatan pemberian informasi tentang:

a. Tugas-tugas perkembangan masa remaja akhir tentang kemampuan dan perkembangan pribadi

b. Perlunya pengembangan kebiasaan dan sikap dalam keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME

c. Usaha yang dapat dilakukan dalam mengenal bakat, bakat, minat serta bentuk-bentuk penyaluran dan pengembangannya

d. Perlunya hidup sehat dan upaya pelaksanaan

e. Usaha yang dapat dilakukan melalui Bimbingan dan Konseling dalam membantu peserta didik dalam menghadapi masa peralihan dari masa remaja awal kemasa remaja yang penuh tantangan.

2. Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar

Meliputi kegiatan pemberian informasi tentang:

a. Tugas-tugas perkembangan masa remaja berkenaan dengan pengembangan diri, ketrampilan, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.

b. Perlunya pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, aktif terprogram, baik belajar sendiri maupun kelompok.

c. Cara belajar diperpustakaan, meringkas buku, membuat catatan dan mengulangi pelajaran

d. Kemungkinan timbulnya permasalahan belajar dan cara mengatasinya

e. Pengajaran perbaikan dan pengayan

f. Pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam upaya meningkatkan kegiatan dan hasil belajar peserta didik

g. Kursus dan sekolah yang mungkin dimasuki setelah tamat

h. Tata tertib sekolah, cara bertingkah laku, tata karma dan bersopan santun Sistem penjurusan, kenaikan kelas, syarat-syarat mengikuti UN/UAN/US

i. Fasilitas belajar/sumber belajar

j. Cara mempersiapkan diri dan belajar di sekolah

3. Informasi jabatan

Meliputi kegiatan pemberian informasi tentang:

a. Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karir

b. Perkembangan karir dimasyarakat

c. Sekolah menengah, kursus-kursus, beserta program pilihannya, baik baik umum maupun kejuruan dalam rangka rangka pengembangan karir

d. Jenis tuntunan dan syarat-syarat jabatan yang dapat dimasuki tamatan SLTP/SLTA, seperti kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki.

e. Kemungkinan permasalahan yang muncul dalam pilihan pekerjaan atau karir dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi akibatnya.

f. Pelaksanaan pelayanan bimbingan karir bagi para peserta didik.

g. Syarat-syaratnya memasuki suatu jabatan, kondisi jabatan/karier serta prospeknya.

h. Langkah-langkah yang perlu ditempuh guna menetapkan jabtan/karier.

i. Memasuki perguruan tinggi yang sejalan dengan cita-cita karier.

4. Informasi kehidupan keluarga, sosial kemasyarakatan, keberagaman, sosial budaya, dan lingkungan

Meliputi kegiatan pemberian informasi tentang:

a. Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan berhubungan sosial

b. Cara bertingkahlaku, tata krama, sopan santun, dan disiplin

c. Tata krama pergaulan dengan teman sebaya, baik di sekolah sendiri maupun di sekolah lain, peserta didik dengan dewan guru dan karyawan dalam rangka kehidupan yang harmonis di lingkungan sekolah

d. Suasana dan tata krama kehidupan dalam keluarga

e. Nilai-nilai sosial, agama, adat istiadat, kebiasaan dan tata krama yang berlaku dilingkungan masyarakat

f. Hak dan Kewajiban warga negara

g. Kesamaan dan keterlibatan masyarakat

h. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat sekitar

i. Permasalahan hubungan sosial dan keterlibatan masyarakat beserta akibatnya

j. Pengenalan dan manfaat lingkungan yang lebih luas (lingkungan fisik, sosial dan budaya)

k. Melaksanakan pelayanan sosial

5. Informasi Pendidikan tinggi

• Penyelenggaraan Layana informasi

Layanan informasi dapat diselenggarakan melalui ceramah, tanya jawab, dan diskusi yang dilengkapi dengan peragaan, selebaran, tayangan foto, film atau vidio, kunjungan ke perusahaan-perusahaan. Berbagai nara sumber, baik dari sekolah sendiri, atau dari sekolah lain, dari lembaga-lembaga pemerintah, maupun dari berbagai kalangan di masyarakat dapat diundang guna memberikan informasi kepada peserta didik. Namun perlu diingat bahwa semua kegiatan hendaknya direncenakan direncanakan secara matang.

Layanan informasi dapat dilaksanakan secara individual, klasikan dan ataupun diselenggarakan secara umum. Dapat juga diberikan secara lisan ataupun seperti jurnal, majalah, dan leaflet.

• Instrumen Evaluasi layanan Informasi

Dalam mengevaluasi pelaksanaan layanan Informasi kami menggunakan teknik wawancara. Wawancara adalah suatu proses memperoleh informasi dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung antara peneliti dengan responden/pihak terkait. Teknik ini digunakan untuk mencari informasi tentang sejauh mana layanan informasi telah dilaksanakan pada suatu sekolah dengan cara wawancara langsung dengan konselor sekolah disekolah tersebut.

Pedoman Wawancara

Butir-butir Instrumen

1. Jelaskan menurut anda apakah yang dimaksud dengan layanan informasi dan seberapa penting layanan tersebut untuk bagi perkembangan siswa

Jawaban :

2. Jelaskan dampak negatif jika layanan Informasi tidak diberikan kepada siswa

Jawaban :

3. Informasi apa saja yang disampaikan kepada siswa :

Jawaban :

4. Apakah anda membuat daftar informasi yang akan diberikan kepada siswa (kalau ada lampirkan)

Jawaban :

5. Bagaimana cara anda menyusun jadwal pemberian layanan informasi(perminggu/bulan) kepada siswa (Lampirkan Jadwalnya):

Jawaban :

6. Apakah anda melaksanakan layanan informasi sesuai dengan jadwal yang di buat? (lampirkan satlan layanan informasi yang di berikan)

Jawaban :

7. Menurut anda informasi apa saja yang paling penting diberikan kepada siswa

Jawaban :

8. Bagaimana proses pemberian Layanan Informasi di sekolah :

Jawaban :

9. Berikan penjelasan mengenai waktu pemberian Layanan Informasi:

Jawaban :

10. Bagaimana cara anda menyusun satlan Layanan Informasi (Lampirkan Formatnya)

Jawaban :

11. Bagaimana cara anda mengetahui layanan informasi yang diberikan telah sesui dengan kebutuhan siswa!

Jawaban :

12. Bagaimana cara anda menyusun agar layanan informasi yang diberikan mencakup seluruh layanan bimbingan?

Jawaban :

13. Bagaimana cara anda menyusun agar layanan informasi sesuai dengan kurikulum yanga di terapkan disekolah?

Jawaban :

14. Bagaimana cara anda menindak lanjuti hasil pelaksanaan Layanan Informasi?

Jawaban :

15. Dengan siapa saja anda bekerjasama dalam memberikan layanann informasi?

Jawaban :

16. Sebutkan sumber/literatur informasi yang anda berikan (lampirkan refrensinya)

Jawaban :

17. metode apa saja yang anda gunakan dalam pemberian layanan informasi (klasikal dan perorangan)

Jawaban :

18. Berapa menit/jam waktu yang diberikan sekolah untuk kegiatan BK di kelas? Apakah waktu itu cukup untuk melaksanakan layanan informasi?

Jawaban :

19. Media apa saja yang sering anda gunakan dalam pemberian layanan informasi, jelaskan kelebihan media tersebut!

Jawaban :

20. Jika menggunakan komputer/laptop, jelaskan program apa saja yang dapat mendukung pelaksanaan layanan Informasi?

Jawaban :

• Instrumen Evaluasi layanan Informasi

(a) Petunjuk

1. Pilihlah Pernyataan di bawah ini dengan mengisi tanda checklist (√).

2. Pernyataan-pernyataan tersebut memerlukan tanggapan sesui dengan pemikiran anda mengenai bagaimana proses layanan informasi dilaksanakan dalam sekolah.

3. Jika menurut responden program tersebut sangat baik, bubuhkan tanda checkhlist pada angka 3; bubuhkan tanda checkhlist pada angka 2 , kurang tidak baik; bubuhkan tanda checkhlist pada angka 1, tidak perlu dilaksanakan.

No Pertanyaan/Pernyataan Jawaban

1. Perlukah data tentang kecerdasan siswa dikumpulkan oleh sekolah ?

2. Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling, apakah perlu diadakan tes bakat untuk siswa

3. Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling, apakah perlu diselenggarakan inventori minat untuk siswa

4. Apakah masalah-masalah yang dialami siswa perlu diidentifikasikan

5. Apakah kebiasaan belajar siswa perlu diidentifikasi

6. Apakah memerlukan data tentang identitas siswa : latar belkang keluarga, ekonomi, cita-cita dan kebiasaan-kebiasaan siswa ?

7. Apakah informasi cara belajar yang efektif dan efisien perlu diberikan kepada para siswa ?

8 Apakah informasi tentang kurikulum perlu diberikan kepada siswa ?

9 Apakah informasi mengenai berbagai hal mengenai kelanjutan studi perlu diberikan kepada siswa ?

10 Apakah informasi mengenai tata karma pergaulan perlu diberikan kepada para siswa ?

11 Apakah informasi mengenai tata tertib sekolah perlu diberikan kepada para siswa ?

12 Apakah informasi tentang cara menggunakan waktu luang perlu diberikan kepada para siswa ?

13 Apakah informasi tentang jenis-jenis jabatan/pekerjaan perlu diberikan kepada para siswa ?

14 Apakah informasi kenalakan remaja perlu diberikan kepada para siswa

15 Apakah siswa perlu diberikan informasi tentang kekuatan dan kelemahan dirinya ?

16 Apakah para siswa perlu dibantu untuk memilih program pilihan/ jurusan ?

DAFTAR PUSTAKA

Prayitno, 1999. Panduan Kegiatan pengawasan Bimbingan dan Konseling di sekolah.Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Giyono. Desember. Diktat Bimbingan dan Konseling di sekolah.